Lembar coretan

Kenapa setiap ketulusan hanya menimbulkan kesalahpahaman? Kenapa setiap tekad hanya akan direndahkan?Kenapa orang terdekat mampu melukai sedalam ini? Kenapa orang terdekat mampu melukai sesakit ini? Kenapa orang terdekat mempu merobek angan tanpa menoleh lagi?

Selasa, 21 Desember 2010

Anak dan Takdirnya



Di dalam hati kecil setiap orang, setiap manusia pastilah ada rasa sayang pada kedua orangtua seburuk apapun orang tua kita. Kalau hewan entahlah. Belum pernah mensurveinya. Pada aturan agama, pastilah juga disarankan bahkan diwajibkan bagi setiap manusia untuk menyayangi bahkan juga menghormati kedua orang tua.
Seorang anak tidak boleh mengatakan kata-kata umpatan untuk orangtua mereka. Marah juga tak diperbolehkan. Ketika orangtua sudah mulai tua anaknya diwajibkan untuk merawatnya. Tak peduli bagaimana sikap orangtua itu dulu.
Namun terkadang para orangtua tak mau tahu hal itu. Terkadang pula para orangtua yang mengambilkan keputusan untuk kita dengan dalih “anak harus mengikuti kata-kata orangtuanya”. Sementara bagi anak keputusan itu tak sesuai dengan apa yang ada dalam hatinya. Tak sesuai dengan keinginan yang dianggap terbaik. Dan seorang anak yang ingin keputusannya dihargai hanya bisa mengalah karena orangtua selalu menggunakan dalih “jangan melawan orangtua”.
Entah harus bernapas lega atau kecewa. Bernapas lega karena tebakannya benar-benar jadi nyata. Dan kecewa karena keinginannya tak akan jadi nyata.
Ketika orangtua selalu menyalahkan pada anaknya atas semua yang terjadi. Ketika orangtua tak mau tahu apa yang diinginkan oleh anaknya, karunia tuhan untuknya. Ketika orang tua tak mau tahu bagaimana perjuangan seorang anak untuk membuat mereka bahagia. Dan mereka meremehkan itu semua. Para orangtua dengan sukses memupus kata bahagia dan memotong senyum para anak mereka sendiri hanya karena melihat pada yang lebih dari anaknya. Ketika orangtua tak mau mengerti apa yang dirasakan anak mereka.
Para orang tua itu tak tau bahwa anaknya telah mengorbankan banyak waktu mereka untuk kebahagiaan orangtua. Mengorbankan cita-cita mereka untuk cita-cita orangtua mereka.
Dan seorang anak itu hanya bisa mengutuk diri mereka yang telah gagal. Anak itu hanya merutuki semua keberhasilan yang tak jua diakui orangtuanya.
Seorang anak hanya ingin dianggap dimata kedua orangtuanya. Hanya ingin dianggap sebagai karunia bagi orangtuanya. Dan mereka tidak ingin dianggap sebagai seuatu hal yang merepotkan. Tak ingin dilihat dengan tatapan ‘apa yang bisa kau lakukan’.
Pengakuan. Ternyata begitu sulit untuk mendapatkan semua itu. Membuang semua ego pun tak cukup. Hingga harus membuang cita-cita. Harapan, ketakutan, bahkan perasaan.
Tapi begitulah takdir sebagai seorang anak. Anak banyak berhutang budi pada orangtua. Dan anak harus membayar hutangnya bahkan dengan hidupnya.

Jumat, 17 Desember 2010

Nasihat kecil

Paku dan Luka

Suatu ketika, ada seorang anak laki-laki yang bersifat pemarah. Untuk mengurangi kebiasaan marah sang anak, ayahnya memberikan sekantong paku dan mengatakan pada anak itu untuk memakukan sebuah paku dip agar belakang setiap kali dia marah.

Hari pertama, anak itu memakukan 48 paku ke pagar setiap kali dia marah. Lalu secara bertahap jumlah itu berkurang. Dia mendapati bahwa ternyata lebih mudah menahan amarahnya daripada memakukan paku ke pagar.

Akhirnya tibalah hari dimana anak tersebut merasa sama sekali bisa mengendalikan amarahnya dan tidak cepat kehilangan kesabarannya. Dia memberitahukan hal ini kepada ayahnya, yang kemudian mengusulkan agar dia mencabut satu paku untuk setiap hari dimana dia tidak marah.

Hari-hari berlalu dan anak laki-laki tu akhirnya memberitahu ayahnya bahwa semua paku telah tercabut olehnya. Lalu sang ayah menuntun anaknya ke pagar. “Hmm, kamu telah berhasil dengan baik anakku, tapi, lihatlah lubang-lubang di pagar ini. Pagar ini tidak akan pernah bisa seperti sebelumnya. Ketika kamu mengatakan sesuatu dalam kemarahan. Kata-katamu meninggalkan bekas seperti lubang ini … di hati orang lain.

Kamu dapat menusukkan pisau pada seseorang, lalu mencabut pisau itu… Tetapi tidak peduli beberapa kali kamu meminta maaf, luka itu akan etap ada.. dan luka karena kata-kata adalah sama buruknya bahkan lebih buruk dengan luka fisik.”