
Hari ulang tahun adalah ketika kebahagiaan menyelimuti setiap hati manusia. Apalagi seorang anak. Sehari sebelum ulang tahunnya pastilah seorang anak mengukir berbagai harapan dan juga menerka-nerka kado apa yang ia dapat besok.
Tapi apa jadinya jika semua itu pupus. Harapan yang ditata, dibangun dan dihiasi dengan senyum beraneka rupa ternyata hanyalah pintu kekosongan, kesendirian dan kesepian. Kenyataan memang tak selalu sejalan dengan harapan.
Rencana, impian, harapan dan bayangan kebahagiaan adalah hal yang kan menghiasi hati setiap anak satu hari sebelum hari ulang tahunnya. Keinginan dalam hatinya adalah hari ini segera bergenti dengan hari esok. Ketika jam 12 malam berdentang. Menandakan bertambahnya umur. Membayangkan ketika kedua orangtuanya mengucapkan selamat ulang tahun sambil mengecup keningnya. Membayangkan ketika ada pelukan hangat yang ia dapatkan sebagi rasa syukur atas bertambahnya umur.
Tapi bagaimana jika semua asa itu hanyalah mimpi. Bunga tidur yang tak akan nyata. Bagaimana jika itu hanya harapan kosong.
Ketika denting jam 12 berbunyi. Hanya dinginnya malam yang menyambut bertambahnya umur. Hanya gelapnya angan yang mengucapkan selamat ulang tahun padanya. Bahkan hanya debu lantai yang mengingat lilin ulang tahunnya.
Mencoba bersabar. Ya… anak itu hanya bisa mencoba bersabar. Berharap pada denting jam 12 malam berikutnya. Bukan berharap kado istimewa. Tak pula kue ulang tahun yang penuh aroma coklat. Tetapi hanya ucapan ‘Selamat ulang tahun’.
Hanya sebuah ucapan yang menandakan bahwa ia disayangi. Yang menunjukan bahwa ia diakui. Pengakuan. Ucapan yang dia harapkan itu merupakan wujud pengakuan. Sebagai alasan untuk terus bertahan hidup.
Tetapi yang didapat hanyalah keheningan. Denting malam berikutnya kosong. Tak ada yang mengingatnya. Tak ada yang mengingat hari ini hari apa. Tak ada yang mengakuinya. Dan satu hal yang tertanam dalam hatinya tak ada yang menyayanginya.