Lembar coretan

Kenapa setiap ketulusan hanya menimbulkan kesalahpahaman? Kenapa setiap tekad hanya akan direndahkan?Kenapa orang terdekat mampu melukai sedalam ini? Kenapa orang terdekat mampu melukai sesakit ini? Kenapa orang terdekat mempu merobek angan tanpa menoleh lagi?

Sabtu, 28 Januari 2012

Tak Pentingkah Kehadiran Saya?



Tak pentingkah kehadiran saya?
Setiap jengkal langkah mulai merapuh
Diri ini mulai melemah                     
Sekuat tenaga bertahan
Berdiri dalam kerapuhan
Kaki-kaki kecil ini tak kuat lagi menopang
Tangan ini mulai gemetaran
Pena mulai menari tanpa henti
Pena pun tak kalah letih
Setiap sel  darah mulai lelah mengalir
Jantung mulai lelah berdetak
Matapun mulai enggan mengangkat kelopaknya
Hingga nafaspun mulai engan mengalir membasuh raga

Lutfiana, 28 Januari 2012 17.22

Selasa, 24 Januari 2012

Happy Birthday My Friend!

Today is my lovely bestfriend birthday..

Happy birthday to indy
Selamat ulang tahun buat indi
Sugeng tanggap warsa neng indi
Otanjoubi omedetou indi san
Saengil chukkae hamnida indi ssi

Semoga panjang umur, sehat selalu, cepet dapet jodoh, dan persahabatan kita bertahan bahkan sampe di kehidupan setelah mati nanti.
Persahabatan kita adalah persahabatan terindah yang kita lalui. Allah mempertemukan kita dalam sebuah lika-liku jalan yang bahkan tak kita sadari.  Jalan yang bergelombang, penuh kerikil dan juga lubang. Meski terkadang tertatih. Meski terkadang terantuk batu. Meski terkadang terjerembab dalam lubang. Kita tetap berjalan. Meski terkadang rapuh dan letih.
Perjalanan kita begitu panjang kawan.
Goresan-goresan perjalanan itu menjadi sebuah cerita.
Cerita indah.
Ketika kita saling menopang
Ketika kita saling bergandengan tangan.
Ketika kita berbagi senyuman.
Kaki kecil kita melangkah mengikuti cerita dan rencana Allah.
Ketika kita dikecewakan oleh sebuah keputus-asaan.
Ingatkah kau kawan.
Hidup kita bagaikan pilihan kedua.
Kita berjalan dalam jalan yang dipilihkan Allah untuk kita
Kita bertemu.
Berbagi jalan
Berbagi kawan
Berbagi senyuman.
Kemudian takdir kita berlanjut
Pilihan jalan yang berbeda mempertemukan kita pada tujuan yang sama

Membagi senyum pada makhluk lain
Membagi tawa pada jalan orang lain
Kita menemukan kaki-kaki lain
Melalui jalan tuhan dengan berbagai keinginan
Menyatukan berbagai rasa berbagai cerita
Kebetulan jalan kita sama
Meskipun kita berbeda
cara tersenyum berbeda
Kehidupan yang berbeda
Membuka gerbang kehidupan kita bersama
Mengarungi dunia dengan tetap tertawa
tawa kita seolah mengalahkan bisingnya negara
Langit terus menaungi kita.
membagi senyum saat duka
Membagi tawa
Membagi ruang kecil hati kita
untuk bernafas bersama
Tetap berbagi tawa
meski kita sedang ada di lorong gelap yang sama
berbagi cerita
meski hati kita sedang bergidik ngeri
tetap berbagi rasa
meski kaki-kaki kecil kita terjebak dalam genangan air  yang sama
Entah harus dibilang ajaib atau apa
kita tetap tertawa meski kita terjebak dalam kegelapan
tetap tertawa bahkan ketika tangis membahana
Senyum kita mengalahkan pesona dunia
Senyum kita mengobati luka dunia
Kebersamaan kita mengobati lara di jiwa
Tetap tegar dalam gelap
tetap tersenyum dalam gelap
tetap narsis dalam gelap
Kita adalah kita
jangan pedulikan apa kata dunia
Biarkan diri terus berangan
Menerbangkan keinginan
menitipkan angan pada langit yang tak berujung
kita adalah tokoh utama di hidup kita

Mungkin berbagi ruang hati saja tidak cukup
Berbagi isi perut mungkin itu melengkapi
Ingat ini kawan
Bersama menaklukan malam
Meramaikan heningnya dedaunan
dengan tawa kita
dengan canda kita
Menciptakan rasa manis
manis dalam brownies
Semanis senyum kita
Coklat itu memang tak begitu manis
ada sedikit rasa pahit di dalamya
tetapi karena itulah dia istimewa
Berbagi dalam duka
meski ada yang tertawa
Berbagi dalam keharuan
meski ada yang salah mengekspresikannya
Berbeda tapi tetap satu
Belajar saling memahami
saling mengerti
saling menghormati
dan saling-saling yang lainnya

Tingkah konyol kita
tak luput melukiskan tawa
menggoreskan harapan dalam pahitnya kehidupan
Kita membagi kekonyolan kita
membagi kebahagiaan
membagi duka
membagi cerita
yang pasti tidak membagi cinta
hehhehehe
Persahabatan kita bagaikan sepasang sandal ini
jika yang satu hilang maka tak akan berguna lagi


Happy Birthday
Ari Indiastuti

Untuk persahabatan kita
Ari Indiastuti 25 januari 1993
Tiara Ayu Putri 4 Maret 1994
Rizky Fitriana 1 April 1993
Zuni Suryanti 10 Juli 1993
Elia Berliana 18 Juli 1993
Lutfiana 8 Desember 1993




Lutfiana 25 Januari 2012 13.18

Mimpi Demi Hati

“Berbahagialah ketika kau memiliki kesempatan kedua dalam hidupmu”




Aku terbangun dari tidurku. Seperti biasa menengok jam dan tanggal. Sudah menjadi kebiasaanku ketika aku bangun maka aku akan memperbarui ingatanku tentang hari ini.

6 Februari 2011
16.00

Tunggu dulu! 2011? Yang benar saja ini 1 tahun yang lalu. Aku mencoba memeras otakku untuk mengingat-ingat apa yang terjadi padaku. Sehingga aku terbangun setahun yang lalu.

Ahhh! Aku ingat malam itu aku memohon kepada tuhan, meminta agar waktu bisa ku putar kembali ke masa itu. Ketika aku menyakiti hati seorang gadis yang mau memberikan hatinya untukku. Seorang gadis yang begitu tulus. Gadis lugu nan polos itu.

Oh iya tanggal ini. 6 februari 2010. Tanggal dimana aku melukainya. Meninggalkannya setelah mengambil hatinya aku pergi bahkan tanpa mengucapkan bahwa aku juga menyukainya.

Aku tahu ini tak akan mengubah apapun. Tapi paling tidak aku pergi tanpa membuatnya terluka. Aku kembali untuk mengucapkan apa yang belum kuucapkan. Melakukan apa yang belum kulakukan.

Tepat pukul 19.00 aku berlari menuju tempat kami bertemu. Aku berharap gadis itu belum sampai. Dulu sebelum aku meninggalkannya tanpa kata, aku berjanji untuk menemuinya. Mengucapkan yang seharusnya aku ucapkan. Di sini, di Alun-alun kota.

“Hai!”, ucap gadis itu berdiri sambil tersenyum menyambutku. Senyum itu. Masih senyum yang sama yang selalu dia pamerkan untukku.

“Udah lama Fi?”

Aku duduk disampingnya sambil menyelaraskan nafasku. Fia, gadis itu hanya mengangguk sambil duduk disampingku. Kulihat dia mengulum senyum.

“Ada yang...”, kami membuka suara bersamaan. Aku jadi penasaran apa yang ingin dia katakan. Aku menyuruhnya mengungkapkannya terlebih dulu.

“Aku semalam bermimpi aneh.”, aku menatapnya. Kulihat dia menerawang jauh di gelapnya langit. Seolah mencari-cari sesuatu. “Aku bermimpi aku menangis sendirian disini. Kamu nggak dateng dan aku disini menangis sendirian.” Tambahnya sambil menatapku lekat-lekat.

Aku menggenggam tangannya. Mencoba menghilangkan keresahan dalam hatinya. Aku mencoba menahan setiap pergolakan dalam hatiku. Aku harus menjelaskannya pelan-pelan.

“Maafkan aku.”

“Kenapa minta maaf? Kamu dateng kesini kan. Kamu nggak bikin aku nangis. Kamu...”

“Belum.” Aku memotong perkataannya. Aku tak bermaksud. Tapi sulit mengatakannya. Fia menatapku bingung.

“Aku juga menyukaimu fi!”

Kulihat Fia tercengang mendengar kata-kata yang keluar dari mulutku. Tapi sejenak kemudian dia tersenyum. Senyum terindah yang dia perlihatkan padaku. Oh tuhan, bagaimana aku bisa meninggalkannya sekali lagi? Kemudian aku menggenggam tangannya lebih erat.

“Makasih. Makasih kak.”

“...”

“Ini seperti mimpi kak. Kamu disini dan mengatakan hal itu padaku. Malam ini memang tak berbintang. Tapi aku tetap senang karena ada bintang disampingku.”

Aku tak menduga gadis ini menangis. Sebegitu bahagianya dia. Airmata itu menuruni pipinya. Tapi dia tetap tersenyum. Airmatanya seolah berkilau terkena sinar lampu disekitar kami.

“Maafkan aku. Aku benar-benar minta maaf. Aku hanya bisa mengatakan aku menyukaimu. Aku menyayangimu. Aku sangat sangat menyukaimu.”

Aku tak mampu meneruskan kata-kataku. Kilauan permata itu masih ada di pipinya. Sinar terang matanya itu masih begitu terang. Aku tak sanggup meredupkannya lagi.

“Kak, apa maksudmu?”, suara lembutnya keluar penuh dengan tanda tanya.

“Seharusnya aku mengatakan itu di saat yang sama setahun yang lalu. Mengatakan bahwa aku menyukaimu. Bahwa aku ingin kamu bersamaku di sisa umurku. Bahwa aku selalu memikirkanmu.”, aku mengatakannya perlahan-lahan. Seolah tak mau kehilangan moment ini.

“Kak...”

Fia menatapku penuh kebingungan. Aku tak sanggup melihat wajahnya. Aku menundukkan wajahku berusaha menenangkan diriku. Aku harus mengatakannya.

“Sekarang aku nggak bisa mengatakan seperti apa yang kurencanakan dulu. Aku akan berhenti menyukaimu sekarang. Aku harus pergi.”

“Kak, kamu ngomong apa? Aku nggak ngerti.”

“Ingatlah aku pernah menyukaimu. Ya? Aku pergi. Aku kembalikan hatimu, berikan itu pada orang yang menyayangimu.”

Dengan berat hati aku melepaskan tangannya. Aku melihatnya meneteskan airmatanya lagi. Aku langsung berbalik dan berjalan menjauh. Aku tak mau berjalan mundur dan melihatnya menangis.

Aku melihatnya menundukan kepalanya. Menyembunyikan tangisan yang bahkan tanpa suara. Tak berapa lama kakaknya yang tadi menemaninya menghampiri. Aku tahu pasti dia mengabarkan kepergianku.

Aku diijinkan berdiri disini memandangi gadis itu. Gadis yang sedang terduduk di tempat tidurnya. Mengusap setiap airmatanya. Tanpa sadar ada permata yang berkilau ditanganku. Ini, airmata Fia.

“Irham... apa kakak disini?” suara itu tiba-tiba keluar dari mulut Fia.

Iya Fia, aku disini. Aku disini.

“Kak, mimpi ini. Apa kamu datang ke dalam tidurku kak?”, gadis itu berucap sambil menerawang lurus seolah sedang menatap kedalam mataku.

Demi kamu. Aku ingin mengatakan yang belum sempat kukatakan.

“Kak, makasih. Kamu ngasih aku kejelasan kak. Aku memang nggak rela kamu pergi. Aku mengunci diriku, menutup diriku dihadapan semua orang setelah kamu pergi. Tapi, kini aku tahu. Aku akan meneruskan hidupku untukmu kak. Aku akan bahagia untukmu kak.”

Kulihat dia beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan keluar. Sambil mengusap airmatanya dia keluar dari kamar minimalisnya. Tapi gadis itu tiba-tiba menghentikan langkahnya.

“Oh iya, bolehkah aku tetap membawa cintamu kak?”, ucapnya sambil menyunggingkan senyum. Senyum yang ia simpan setahun ini.

Pertanyaan yang tak perlu kujawab. Aku hanya menganggukkan kepalaku. Tentu saja Fia tak mungkin melihatnya. Aku pergi Fia. Aku pergi.


Lutfiana, 23 Januari 2012 23.11 WIB

Sabtu, 21 Januari 2012

Hujan, aku terluka!


Rasa sakit ini
Aku begitu mengutuknya
Kenapa? Kenapa?
Tak mau musnah dari hatiku
Airmata ini
Kenapa terus mengalir
Kenapa tak mau berhenti
Sakitkah?
Hancurkah?
Aku mohon berhentilah
Darah ini tak berhenti mengalir
Dalam kebisingan hujan
Aku berteriak
Seolah hening
Semua tertegun
Sakit ini..
Airmata ini tak mau berhenti
Terus.. ku genggam jantungku..
Berharap semua terhenti detik ini
Berharap semua selesai saat ini
Aku tersungkur diantara pecahan kaca
Semuanya mengiris perlahan
Mengalirkan darah
Menguras airmata
Mengheningkan teriakan
Dalam sunyi sepi hujan

Jejak dalam Maaf

Aku sedang berjalan-jalan di duniaku. Membaca berbagai hal. Melihat lukisan kehidupan orang-orang yang kukenal. Dengan tawa mereka, kepedihan mereka bahkan kemarahan mereka. Semua itu tertuang dalam lukisan kehidupan mereka.

Kemudian aku teringat akan dirimu. Dengan setengah iseng, aku mulai memasuki duniamu. Mengenal setiap hal yang ada di hidupmu setelah mengenalku. Setiap jejak mulai kumasuki. Merasuki setiap perasaan yang mungkin terukir di hidupmu.

Ada satu jejak yang berbeda. Yang mengungkap suatu hal tentangmu. Jejak itu tak mungkin kumasuki. Jejak itu seolah begitu asing untukku.

Aku mulai tersadar. Aku mulai bangun dari anganku. Aku terlalu dalam memasuki hidupmu. Aku terlalu tak tau diri. Maafkan aku. Aku melibatkan perasaanku. Aku yang terlalu tenggelam dalam kesendirianku. Sehingga ketika kau datang, tanpa sadar aku melibatkan perasaanku.

Aku akan berhenti. Mulai saat ini aku akan menutupnya. Aku tak mau tersakiti lagi. Menerima kenyataan atas jejak hidupmu yang tak layak dimasukki olehku. Aku sadar. Aku hanya gadis yang terlalu banyak mengeluh.

Maaf.

Untuk kesekian kalinya aku minta maaf padamu. Aku akan berhenti sebelum semuanya terlambat. Sebelum perasaanku terlibat semakin jauh. Aku berhenti.
Jejak-jejak itu masih begitu terngiang-ngiang dalam otakku. Aku seperti orang asing yang dengan bodohnya percaya. Maaf. Maaf.

Selasa, 17 Januari 2012

Tips Menulis Novel ala Tere Liye

Annida-Online-- Darwis Tere Liye, siapa yang nggak kenal novelis satu ini? Kiprahnya di dunia menulis patut diacungi jempol. Betapa tidak, ia telah menggarap banyak judul novel, di antaranya: Semoga Bunda Disayang Allah (2007), Hafalan Sholat Delisa (2007), Bidadari-bidadari Surga (2008), Rembulan Tenggelam di Wajahmu (2009) dan Pukat (2010).
Novel “Hafalan Sholat Delisa” mengangkat kisah keluarga Delisa yang selamat dari bencana tsunami Aceh. Karyanya itu kini telah difilmkan dan diputar serentak di bioskop-bioskop Indonesia pada 22 Desember 2011 lalu.

Dalam rangka peluncuran dan diskusi novel “Marwah di Ujung Bara” karya Rh. Fitriadi di gedung AAC Dayan Dawood, Unsyiah, Minggu (8/1/2012) pagi, Tere Liye berkesempatan hadir menjadi salah seorang pemateri dalam diskusi yang diselenggarakan oleh Forum Lingkar Pena (FLP) Aceh itu.
Pria berdarah Palembang tersebut juga menjadi pemateri tunggal dalam workshop menulis yang digelar setelah acara launching dan diskusi novel “Marwah di ujung Bara”. Dalam workshop tersebut, ia menjelaskan beberapa poin penting dalam menulis sebuah novel, sebagaimana yang dirangkum dalam ringkasan di bawah ini:

Ide cerita
Ide cerita merupakan salah satu poin penting dalam penulisan novel, namun ide yang baik selalu lahir dari sudut pandang yang spesial. “Ide itu tidak ada yang jelek. Pada dasarnya ide itu sama, hanya saja yang membuat ia menjadi spesial ketika penulis melihat dari sudut pandang yang spesial,” ujarnya.

Amunisi
Seorang penulis, khususnya penulis novel haruslah memiliki amunisi yang cukup untuk menyelesaikan “proyek” novel yang telah digarap. Amunisi yang dimaksud Tere adalah kapasitas pengetahuan sang penulis. Lantas bagaimana cara meningkatkan kapasitas pengetahuan? “Ya membaca dong, tidak hanya di buku-buku, sekarang kan sudah ada internet, berita televisi, radio, dan sebagainya. Maksimalkan dari situ,” tuturnya.

Tidak ada tulisan yang baik, tidak ada tulisan yang buruk
“Sebutkan satu judul karya yang buruk dan sebutkan satu judul karya yang baik beserta alasannya!” instruksi Tere kepada peserta. Tere menjelaskan tentang status tulisan, pada dasarnya tidak ada yang sangat baik dan tidak ada tulisan yang sangat buruk. Bagus tidaknya tulisan menurutnya adalah relatif, tidak ada karya yang terlepas dari kritik pedas.
Oleh sebab itu, jangan pernah malu dan takut untuk memublikasikan karyamu, karena penulis yang baik adalah penulis yang mau menerima kritikan dan memperbaiki setiap kesalahan.

Mulailah dari tulisan kecil
Tere menyarankan kepada setiap penulis pemula untuk “awaliah” (pembuka tulisan, -red) sebuah tulisan, “Mulailah dari tulisan kecil, pendek tapi bertenaga, sederhana tapi bermanfaat,” ungkapnya.
Banyak penulis yang mengeluh dalam memulai menulis. Tere berpendapat, tidak penting dimulai dari mana, cukup ditulis saja. ”Jika susah menulis paragraf pertama, mulai saja dengan paragraf kedua. Paragraf pertama dikosongkan saja,” candanya.

Mood jelek adalah anugerah
Adalah hal yang lumrah, ketika seorang penulis dihinggapi oleh mood (perasaan, -red) jelek atau tidak mood. Namun mood yang terus-terusan jelek adalah sebuah masalah. “Mood jelek adalah anugerah, namun ketika mood terus-terusan jelek adalah masalah,” ungkapnya. Cara untuk menghadapi mood yang jelek adalah terus berlatih.”Tidak ada solusi selain berlatih, berlatih, dan berlatih,” tutur Tere.
Berlatih yang dimaksud adalah dengan tidak berhenti untuk menulis. Tere menyarankan kepada setiap penulis untuk menulis 1.000 kata per hari. Hal tersebut dimaksudkan untuk membuat seorang penulis terbiasa dan “efek samping” dari kegiatan itu adalah menurunnya kadar mood jelek yang biasa terjadi.

Pantang menyerah
Setelah penulis selesai mengerjakan sebuah novel, kini saatnya ia mengirimkan karya tersebut kepada penerbit. “Setelah diselesaikan, langsung dikirim ke penerbit.” Ia menyarankan untuk mengirimkan karya ke penerbit ternama di tanah air, seperti Gramedia Pustaka Utama, Mizan, Republika, dan sebagainya. Setelah karya dikirim, secepatnya dua minggu, penerbit yang dituju menjawab. Jangan menyerah ketika penerbit tidak bersedia menerbitkan karyamu. “Hafalan Sholat Delisa sendiri sempat ditolak oleh dua penerbit besar Indonesia, namun teruslah mencoba. Sampai ketika novel tersebut diterbitkan oleh Republika, penerbit yang tadi menolak karya saya meminta untuk mengirimkan karya saya,” ujarnya lagi.

bahwa Kesimpulannya, apapun motivasi menulismu, yang terbaik adalah penulis yang menganggap menulis itu teman sejatinya yang selalu menemani saat kesepian, kerinduan, dan segala asa dan rasa. [nurjanah/ http://detak-unsyiah.com]

Senin, 16 Januari 2012

20 Cara Agar Tak Gampang Lupa



Tadi kunci kamar diletakkan di mana ya? Tadi lampu kamar sudah dimatikan belum ya? Eh pintu rumah sudah dikunci belum?

Jika kamu biasa melontarkan beberapa pertanyaan di atas kepada diri sendiri, alias seorang pelupa, berikut ini 20 langkah memperbaiki daya ingat.

1. Padatkan
Ketika mengingat-ingat deretan huruf yang panjang seperti 33987643134509, pecahkanlah menjadi: 33 98 76 43 13 45 09.

2. Jangan menjejalkan
Lebih baik memberi ruang pada proses belajar. Contohnya, ketika belajar bahasa asing, jangan mengulang satu kata terus-menerus. Demikian saran dr. Chris Moulin dari Leeds Memory Group. Ulangi beberapa kali, dan kemudian lanjutkan lagi, dan kembali lagi nanti.

3. Ciptakan petunjuk
Jika kamu mempunyai kegiatan teratur setiap hari pada waktu tertentu, seperti minum obat, berilah petunjuk dirimu sendiri untuk menolong niatanmu tersebut. Misalnya: “Ketika acara TV ini selesai aku akan meminum obat.”

4. Gunakan gambar
Satu cara untuk mengingat sesuatu, seperti nama orang, adalah menggambarkan wajah mereka. Jadi ketika kamu bertemu Joe Diamond, bayangkan sebuah intan (diamond). Kamu harus lebih kreatif untuk menggambarkan nama orang dengan nama yang tidak biasa.

5. Buat lebih bermakna
Gunakan arti khusus untuk mewakili sebuah fakta atau angka, jika kamu perlu mengingat angka 50110662012, pikirkan jins Levis, Perang Hastings, atau Olimpiade London.

6. Buatlah lebih pribadi
Buatlah sesuatu yang ingin kamu ingat berhubungan dengan dirimu sendiri. Itu pertolongan mengingat yang paling baik. Contohnya Blair mulai berkuasa pada tahun 1997, kamu lulus tahun 1997.

7. Metode Kamar Roma
Metode Kamar Roma adalah tentang mengingat rangkaian informasi dengan memvisualisasikan mereka ke dalam sebuah lokasi. Gunakan tempat yang kamu tahu dengn baik, lakukan perjalanan pikiran melewati kamar dalam tatanan yang teratur. Kemudian letakkan informasi dari daftarmu satu per satu ke dalam setiap kamar.

Jadi ketika ingin mengingat Perdana Menteri, tempatkan Harold Wilson di lorong, James Callaghan di ruang keluarga, Margareth Thatcher di dapur dan seterusnya. Pikirkan itu pelan-pelan dan itu akan terus menempel.

8. Rutinitas
Rutinitas yang membosankan adalah teman terbaik ingatan. Letakkan barang-barang tersebut di tempat yang sama di waktu yang lama. Semakin terbiasa, semakin mudah kamu mengingat.

9. Menghafal
Menghafal adalah teknik pembelajaran yang menolong daya ingat - seperti "Mejikuhibiniu" untuk mengingat warna pelangi. Gunakan frasa untuk mengingat hal lain, semakin aneh semakin baik.

10. Makan ikan berlendir
Minyak Omega-3 yang ada pada ikan berlendir, dapat membantu kekuatan berkonsentrasi.

11. Konsumsi choline
Choline, asam amino yang ada pada telur, hati, ayam dan kedelai, dapat menjaga otak dan meningkatkan daya ingat. Penelitian terbaru menunjukkan, orang dengan konsumsi choline yang tinggi berhasil menyelesaikan tes daya ingat dengan lebih baik — walau diet kesehatan jangka panjang adalah kunci utama untuk menjaga fungsi otak yang baik, dengan sayuran hijau, buah beri, tomat, kacang dan kecambah adalah makanan yang baik untuk daya ingat.

12. Olahraga
Sebuah penelitian Cambridge University menyebutkan, latihan aerobik teratur seperti jogging dapat meningkatkan daya ingat dengan memicu pertumbuhan neuron baru di otak.

13. Mengajar
Mengajari konsep baru pada orang lain bisa membantu ingatanmu pada hal tersebut. Jadi berikan mata kuliah kecil untuk temanmu ketika kalian berdua belajar untuk tes yang sama.

14. Berpikiran positif
Menurut ahli kesehatan Harvard, stereotipe negatif tentang penuaan membuat daya ingat menurun. Jadi orang tua menghasilkan nilai tes daya ingat yang buruk ketika dihadapkan pada pernyataan pesimis tentang usia dan kekuatan otak — dan lebih baik ketika mendengar pesan untuk menjaga daya ingat tetap kuat hingga pensiun.

15. Gunakan seluruh inderamu
Makin banyak indera yang kamu gunakan ketika mengalami suatu kejadian, semakin mudah kamu mengingatnya nanti.

16. Catat
Gambar atau tulislah informasi yang ingin diingat.

17. Pengulangan
Ketika kamu ingin mengingat hal baru, ulangi dengan keras. Contohnya jika kamu baru diberitahu nama seseorang, panggil nama mereka ketika berbicara dengan orang tersebut.

18. Tantang dirimu sendiri
Beraktivitas memerlukan konsentrasi. Bergabunglah dengan klub membaca, teka-teki silang atau mencoba resep masakan baru. Kegiatan apapun yang menggunakan otak akan menolongmu untuk menjaga bakat hingga tua nanti.

19. Tulis, jangan ketik
Jari kita mungkin akan kikuk menggunakan alat tulis ketika sudah terbiasa mengetik, namun menulis dengan tangan dapat membuat otak memproses informasi dengan lebih baik. Jadi ketika belajar hal yang baru, tulislah.

20. Meditasi
Penelitian AS menunjukkan, pengobatan harian mempertebal bagian otak cerebral cortex, yang bertanggungjawab membuat keputusan, perhatian dan daya ingat. Cobalah melakukan teknik mengosongkan pikiran, berfokus pada sebuah gambar, suara atau napasmu sendiri.


*sumber: http://id.she.yahoo.com
*sumber: http://annida-online.com

Ketegaran itu Topeng, Kawan!

Kawan terimakasih atas apresiasimu padaku.Tapi aku sendiri berpikir,
Apakah dulu aku sekuat itu?
Apakah aku setegar itu?
Apakah aku seberani itu?
Adakah kau tahu aku tak seteguh itu?
Awalnya aku begitu kukuh. Awalnya kepercayaanku akan perasaan ini tak mudah runtuh. Waktu demi waktu berlalu. Aku masih bisa tersenyum memamerkan deretan gigiku meski hatiku penuh dengan goresan luka yang teramat perih. Cukup bagiku berdiri disampingnya. Atau bahkan diam dibelakangnya. Asalkan dia tak pergi dariku. Asalkan dia tak berlari dariku.
Aku melihatnya dengan keoptimisanku. Aku melihatnya dengan penuh kekagumanku. Lalu sesuatu yang tak pernah kuduga memberondong jantungku. Saat itu akupun dengan begitu sombong masih memamerkan senyum andalanku. Meski setelah itu aku memaki-maki diriku sendiri. Aku mulai kehilangan diriku. Aku mulai muak dengan semua yang kurasakan.
Aku memberanikan diri. Diantara semua ketakutanku aku membiarkannya tahu. Berharap dia mengerti betapa sulitnya aku dan perasaan ini. Awalnya aku berharap jarak kami semakin dekat. Tapi tak kusangka semakin dia tahu, meski kami dekat, seakan ada sejuta tahun cahaya jarak diantara kami.
Setiap kali aku berpapasan dengannya. Ketakutanku seolah semakin memburuku. Dan itu benar. Dia tak menyapaku lagi dengan sapaan hangatnya dulu. Dia tak lagi berbagi denganku seperti setiap pesan yang dia kirimkan dulu.
Tiap kali aku berpapasan dengannya, aku begitu takut. Aku takut menatap matanya. Aku takut bertemu pandang dengannya. Tapi dengan satu keberanian diantara seribu ketakutanku. Aku menatap matanya. Tak kusangka dialah yang memalingkan wajahnya.
Adakah dia tak tega menatap mata senduku?
Aku sendiri tak pernah tahu. Tapi pernah ketika kami bertemu pandang dia tersenyum padaku hanya saja giliranku yang memalingkan wajahku.
Aku terus mencoba tegar diatas semua kerapuhanku.Pernah hati hampir terleleh ketika melihatnya. Mendengarnya memanggilku, mendengar sapaan hangatnya. Tapi semua itu kujaga. Bahkan ketika ia lemparkan aku dalam badai yang menggoncangkan keteguhanku. Aku hampir rubuh kawan. Tapi berkat kau aku bertahan. Tak akan pernah rubuh.
Aku sendiri tak mengerti. Kenapa hati begitu ingin mempertahankan perasaan ini. Aku terus mencoba berjalan di depannya. Tapi malang bagiku meski dengan semua ketegaranku aku tetap berjalan dibelakangnya.
Dulu perasaan ini begitu familiar denganku. Terasa begitu dekat dan begitu kuharapkan. Tetapi semakin kesini perasaan ini menjadi semakin tabu. Semuanya seolah kosong. Aku terus mencari-cari tapi hasilnyapun kosong.
Saat aku kembali tahu aku hanya orang ketiga baginya. Akupun mulai sadar kekosongan ini memuncak. Aku tak pernah berniat melupakan perasaan ini. Karena perasaan inilah aku kembali ke jalan Allah.
Tapi tatapannya tak seperti dulu lagi kawan. Senyumannya tak lagi meluluhkan kesombongan hati. Bahkan ucapannya tak lagi menggoncangkan diri.
Aku terjatuh lagi karenanya. Tapi aku tahu Allah ada untukku kawan. Dan aku selalu berharap ada orang yang mau kembali menerangi jalanku. Menuntunku yang buta akan arah. Yang tuli karena kepedihan. Yang lumpuh bahkan hanya untuk terduduk.

Sabtu, 14 Januari 2012

Sejengkal Tujuan

Mendaki gunung bagaikan sebuah filosofi kehidupan. Setiap orang pasti menginginkan peningkatan di hidupnya. Sama seperti orang naik gunung. Ketika seseorang mendaki gunung, ingin cepat mencapi puncaknya.
Orang yang mendaki gunung akan menyiapkan bekal agar ketika perjalanannya nanti tidak kehausan ataupun kelaparan. Orang hidup juga seperti itu. Untuk berkembang menjadi lebih baik, orang haruslah memiliki semangat , tidak mudah putus asa, jujur dan sebagainya.
Ketika awal mendaki gunung, betapa bersemangatnya orang itu. Melangkah dengan langkah lebar. Senyum masih begitu mengembang. Meski beban yang ada di punggung begitu berat. Medan yang dilaluipun tidak mudah. Tapi semangat masih membara.
Namun sampai di pertengahan jalan. Kaki mulai tersandung batu. Ungkapan lelah mulai bermunculan. Lutut sudah mulai gemetaran. Kaki pun ikut lelah setelah mendaki .Air minum sudah mulai habis namun tas punggung masih tetap berat. Keluhan demi keluhan mulai keluar dari mulut. Pilihannya hanya menyerah atau tetap meneruskankan perjalanan yang entah kapan akan selesai.
Begitu pula dengan kehidupan setiap manusia. Ketika awal melangkah meski penuh keraguan, setiap orang akan menjalani hidup dengan penuh semangat. Semua itu dilakukan demi tujuan mereka tentu saja. Tetapi ditengah perjuangan itu banyak hal yang mulai mengganggu. Entah rasa malas, ketidak jujuran dimana-mana. Lalu setiap orang akan mulai tergoda untuk mengubah jalan hidup mereka.
Tetapi ketika sang pendaki meneruskan jalannya. Saat kaki-kaki kecil mulai lelah. Saat setiap jengkal langkah dirasa begitu susah. Hanya tekad. Degup jantung yang terus berpacu menandakan tekad untuk terus melangkah.
Tujuan masih belum nampak di pelupuk. Meski keyakinan akan sampai di puncak terus memudar. Sang pendaki tak akan menyerah. Karena menyerah berarti kalah.
Detik demi detik terus berjalan. Batu demi batu telah dilalui. Puncak gunung telah terlihat oleh mata. Tanpa sadar. Jantung berpacu lebih cepat. Langkah pun semakin cepat, lupa akan lelahnya perjalanan.
Semua kelelahan benar-benar terbayarkan. Pemandangan begitu mengagumkan. Angin yang berhembus seolah-olah akan menerbangkan diri. Lelah setelah menempuh perjalanan panjang telah terbang bersama angin. Yang tinggal hanya rasa takjub yang luar biasa. Rasa syukur yang begitu membuncah di dada.
Mata enggan berkedip memandang ciptaan Sang Kuasa. Hidung terus menghirup udara yang menenangkan, seolah-olah berebut dengan dedaunan. Mulut terus berucap syukur akan anugrah Tuhan. Tangan-tangan kecil terus meraih-raih angin seolah ingin menangkapnya dan membawanya pulang. Kaki yang tadinya paling santer mengelu-elukan keluhan kini ikut tertunduk pada lukisan tuhan.
Dari sini langit terlihat lebih luas. Dari sini birunya langit seolah bisa kau gapai. Dari sini awan-awan itu benar-benar seperti kapas. Tanah ini terlihat begitu panjang , luas dan dalam.
Bukankah seperti itu pula orang yang telah mencapai tujuan hidupnya. Meski kerikil kecil bahkan batu besar sekalipun menghalangi langkahnya. Tekadnya terlalu kuat untuk diruntuhkan. Kebaikanlah yang ia dapat jika terus menjaga bekalnya berupa kejujuran sampai akhir. Tapi jika bekalnya dibuang. Maka dia tak akan bisa melanjutkan perjalanan.


At Gunung Api Purba Nglanggeran , Gunung Kidul...

Jumat, 13 Januari 2012

Kado Kecil untuk Ayah..

Ayah...
Kata yang disebut ketiga setelah ibu. Terkadang yang selalu aku ucapkan adalah ibu. Ketika aku terjatuh yang aku teriakan adalah ibu. Ketika aku menangis yang kusebut adalah ibu. Entah kenapa ayah. Itu sudah seperti hal yang biasa bagiku.
Ketika aku terjatuh dan terluka aku berteriak memanggil ibu. Ibu pun segera menenangkanku agar tidak menangis lagi. Tapi ayahlah yang mengambilkan obat untukku. Mengoleskan obat itu diiringi tangisan cengengku. Ayah sedikit membentakku agar aku tidak menangis. Ayah tidak mau melihat anak gadis ayah ini tumbuh menjadi anak yang cengeng. Sementara ketika mengobatiku ayahpun takut , tak tega membiarkan rasa perih dari obat itu dirasakan olehku. Tetapi ayah tidak mau memperlihatkan kekhawatiran ayah.
Ketika aku tak mendapatkan rangking di sekolah. Ibu dengan sedikit menggerutu menyerahkan raporku ke ayah. Ayah, aku sedih karena membuat ibu kecewa. Aku juga tidak berani menghadap ayah. Aku tak berani meminta tanda tangan ayah. Ayah mengajakku duduk menunjukkan nilai-nilaiku. Aku sedikit takut. Tetapi ayah memujiku. Ayah memuji perjuanganku. Ayah bilang “Kamu udah belajarkan? Berarti kamu harus belajar dengan lebih rajin lagi ya.”.Dengan tersenyum ayah menandatangani rapor yang mengecewakan itu.
Aku tak pernah sadar. Ketika aku tertidur di kursi ruang tamu, ibu memberikanku selimut. Tetapi ayah menggendongku sampai ke kamar. Sementara sekarang ayah tak bisa menggendongku lagi. Ketika aku tertidur di kursi. Ayah lebih memilih meminta tolong pada ibu untuk membangunkanku dan menyuruhku tidur di kamar.
Ketika aku mulai belajar bersepeda. Ayah tak pernah mengajariku. Ayah selalu memintaku berlatih sendiri. Tetapi ketika aku mulai berlatih di jalan. Ayah menemaniku. Membangunkanku ketika aku terjatuh.
Banyak hal dari ayah yang tak bisa aku ceritakan. Aku tak pernah melihat ayah meneteskan airmata. Seberapapun masalah ayah tak pernah ayah mengeluh. Tersenyum, itulah kekuatan ayah.
Ayah, hari ini 1 januari 2012. Ayah berulang tahun yang ke 55. Maafin aku ayah. Aku nggak bisa ngasih apa-apa. Aku Cuma bisa ngasih ucapan selamat ulang tahun buat ayah.
SELAMAT ULANG TAHUN
AYAH



Semoga Allah memberi ayah umur yang panjang dan bermanfaat. Selalu melindungi ayah. Semoga ayah selalu sehat. Aku sayang sama ayah. Ibu sayang sama ayah. Allah pasti juga sayang sama ayah.

Kamis, 12 Januari 2012

Godaan Tahun Baru


Menurut ulama dan perenungan dari asal muasal tahun baru masehi. Bagi orang muslim merayakan tahun baru itu berarti ikut memeriahkan perayaan orang-orang kafir. Barangsiapa yang mengikuti kegiatan ataupun perayaan suatu kaum maka ia merupakan bagian dari kaum itu. Kesimpulannya jika seorang muslim ikut merayakan tahun baru artinya ia merupakan bagian dari orang-orang kafir.
Tetapi pada zaman modern ini sulit bagi seorang muslim jika ingin menyembunyikan diri dari gegap gempita perayaan pergantian tahun baru masehi. Tidak ikut merayakan artinya mengasingkan untuk sementara dari meriahnya perayaan pergantian tahun.
Ketika jam 00.00 berdentang. Kemeriahan, gegap gempita pergantian tahun baru itu kian terasa. Langit malam yang gelap menjadi merona. Bunyi letusan-letusan kembang api kian menggelora mewarnai larutnya malam. Suara tiupan terompet bergaung disana-sini. Suara ribuan manusia yang mengucapkan “Happy New Year!” atau bahkan “Selamat Tahun Baru” kian menggebu. SMS yang menggaungkan hal yang sama. Dan masih banyak hal lain yang berhubungan dengan perayaan pergantian tahun.
Bagaimana dengan itu?
Bagaimana seorang muslim bisa menghindari godaan itu?
Gegap gempita dan kemeriahan perayaan pergantian itu jelas terlihat didepan mata. Mungkin memang sebagai seorang muslim harus sangat sangat menahan diri. Tapi menutup mata terhadap hiruk pikuk pergantian tahun merupakan hal yang sulit.

Gomenasai


Angkuh
Mungkin itu yang ada di benakmu tentangku
Tapi ini bukan kehendakku
Atau aku menganggapnya bukan
Seolah sebuah lukisan
Dengan angkuh aku tetap berada di tempatku
Seolah aku kukuh padahal aku rapuh
Aku tersenyum padamu
Padahal hatiku tergenggam ketakutan
Tapi tanpa aku mampu menguasainya
Aku terus... terus... dan terus berkata tidak
Tahukah kau aku ingin berkata YA
Aku ingin dengan mantap beranjak dari tempatku
Tahukah kau
Ketakutan ini begitu membelengguku
Atau hanya aku yang menyalahkan ketakutanku
Maafkan aku
Maaf... Maaf...Maaf...
Aku ingin mengucapkan beribu kata maaf ini di hadapanmu
Tetapi lagi dan lagi aku takut kau mengacuhkanku
Maafkan aku..
Maafkan aku...
Maaf..
Aku tahu kau tak mengerti
Jangan pernah coba mengerti
Aku takut kita sama-sama terluka
Teruntukmu yang merasa tersakiti...