Lembar coretan

Kenapa setiap ketulusan hanya menimbulkan kesalahpahaman? Kenapa setiap tekad hanya akan direndahkan?Kenapa orang terdekat mampu melukai sedalam ini? Kenapa orang terdekat mampu melukai sesakit ini? Kenapa orang terdekat mempu merobek angan tanpa menoleh lagi?

Kamis, 01 Maret 2012

Mawar Abu-Abu


Kelamnya malam menarik perhatianku. Gelapnya warna langit itu menenggelamkan pandanganku. Membiarkanku mencurahkan seluruh asaku ke kedalaman langit yang tak berujung. Berjalan dengan diiringi riuh jangkrik bernyanyi. Sedikit mengusir keheningan yang menghantuiku. Pepohonan-pepohonan bergoyang seolah ikut menemaniku dalam kesendirianku.  Mengiringiku dengan musik-musik kehidupan yang selalu anggun dalam harmoni.

Hatiku telah terkungkung dalam kebekuan rasa. Akupun telah membiarkannya begitu percaya. Seperti malam percaya pada bulan dan bintang yang mengiringinya. Seperti matahari percaya pada sinar yang membuatnya berharga. Seperti air percaya pada bening yang selalu menjadi jati dirinya. Namun kini semuanya seolah menghujam kepercayaanku selama ini.

Aku terus menatap langit yang semakin kelam. Mengiringi hatiku yang juga mulai menjadi kelam. Tak kusangka mataku telah basah oleh rasa sakit. Kekecewaan ini memburuku.

Apakah orang yang kupikirkan saat ini juga memandang langit yang sama denganku?

Apakah dia tahu bagaimana rasaku?

Payung-payung mendung itu berarak-arakan. Mengejekku yang termenung dalam kesakitan. Hujan pun tak mau turun untuk sekedar menemaniku. Hanya dingin yang menaungi abu-abu hatiku yang kini mulai menghitam.

“Ingatkan aku ya kawan” ucapku pada kawanku yang dari tadi duduk dibelakangku.

Ita selalu mendengarkan keluh kesahku. Dia yang paling sering mendengar cerita-ceritaku tentang orang itu. Orang yang menyita pikiranku. Yang dengan halus melepaskan anganku hingga jatuh dalam kesakitan.

“Maju lah Li! Udah terlanjur basah!” ucapnya tanpa dosa.

Aku hanya tersenyum simpul. Namun senyumku itu tersamarkan oleh kelamnya langit.

“Kamu kuatkan Li?” Tanya sahabatku itu padaku. “Jangan pernah menangis untuk hal seperti itu ya.” Tambahnya sambil menepuk pundakku lalu beranjak meninggalkanku.

Tepat setelah itu pertahananku runtuh sudah. Lia tak lagi kuat seperti dulu. Lia kembali rapuh oleh kekecewaan yang kini mengurungku dan seolah tak mau melepaskanku.

Berkali-kali kubaca semua deretan jejak-jejak kisah yang tak mungkin kumasuki. Kisah itu bagaikan pisau tajam yang menghujam jantungku. Terasa sakit namun tak berdarah. Mungkin jika luka itu benar-benar berdarah tidak akan begitu menyiksa seperti ini.

Semakin ku genggam jantung ini, semakin aku ingin membuat rasa sakit ini menjadi nyata. Membuat semua berakhir tanpa rasa. Tapi hidupku tak hanya disini bukan. Sejenak aku hanya ingin menikmati sepenggal kisah hidupku yang tak akan sepanjang sungai Gangga.

Malam kian berselimut kelam. Gelapnya semakin pekat. Udara dinginnya semakin membekukan. Sementara rasa sakit ini semakin menyiksaku. Deretan kisah itu mengiris perlahan kisah abu-abuku. Sejenak aku teringat kata-kata kawanku sebelum ini.

“Lia, kisahmu terlalu abu-abu. Suatu saat nanti kamu yang harus mengakhirinya dengan putih atau malah dengan hitam.”

Kata-kata itu terngiang-ngiang di otakku dan semakin menyiksa batinku. Kepercayaan ini telah tertambat sedalam akar pohon kaktus pada gurun pasir. Kisahku telah mengalir hingga sungai Nil. Tapi entah kenapa sungai itu tiba-tiba kering. Kaktus itu terkena badai pasir dan menghilang tertelan debu.

Untuk kesekian kalinya kupandangi deretan kata-kata itu. Semakin jauh semakin sakit rasanya. Tanpa kusadari Ita kembali duduk dibelakangku sambil menutup lembaran kisah tentang orang itu yang sedari tadi kubaca.

“Hentikan! Semua akan indah pada waktunya kawan!” ucapnya sambil menutup lembaran-lembaran itu.

“Memang abu-abu harus berakhir dengan jelas ya Ta?” tanyaku sambil menenggelamkan pandanganku di kelamnya langit.

“Hm!” gumamannya tak mampu menjawab rasa penasaranku. Aku menyenggol lengannya pelan. Berharap ada jawaban lain yang keluar dari mulut kawanku yang satu ini.

“Pada akhirnya yang abu-abu harus memilih akan menjadi putih atau malah menjadi hitam saja. Aku sudah pernah mengatakannya kan!” Tambah sahabatku itu.

“Ya, kurasa kamu benar Ta!” aku masih terus memandangi langit. Hujan telah memudarkan senyumku. Mendungpun ikut menerjang ceriaku. Aku menarik nafas berat.

“Pada akhirnya abu-abu ini berakhir jadi hitam. Meski aku ingin bertanya kenapa abu-abuku tak jadi putih saja?”. Semua pertanyaan itu berputar diotakku tanpa ada yang mau menjawabnya. Hingga jawaban singkat keluar dari mulut Ita.

“Karena bunga kan bersemi pada waktunya nanti”
Pada akhirnya kisah abu-abu harus memilih menjadi hitam atau menjadi putih
Saat ranting putih yang berpihak mungkin saat itulah mawar siap untuk mekar di waktunya



Lutfiana 26 Februari 2012 15.15