Lembar coretan

Kenapa setiap ketulusan hanya menimbulkan kesalahpahaman? Kenapa setiap tekad hanya akan direndahkan?Kenapa orang terdekat mampu melukai sedalam ini? Kenapa orang terdekat mampu melukai sesakit ini? Kenapa orang terdekat mempu merobek angan tanpa menoleh lagi?

Minggu, 25 Desember 2011

Angan yang terluka



Perasaan takut ini memangsa kesadaranku
Ketika dinginnya malam menusuk setiap relung hati
Jiwa ini termangu
Tertegun dalam sepotong kisah
Mata ini menerawang merasuki setiap pori-pori hati
Menyuarakan kebingungan tanpa mengharap jawaban
Bangga karena mampu menangkap angin
Tetapi hampa
Setiap centi diri ini kosong
Menggeliat bagai ulat
Mengangkat leher seperti ular
Kedipan mata ini melemah
Tulang-tulang pun mulai rapuh
Angan-angan ini
Terkunci dalam sangkar jarum beracun
Terlanjur rapuh dan berdarah
Menunggu senja memberi pintu keputusan baginya

Jumat, 23 Desember 2011

Kebekuan

Dia terduduk terpaku
Diantara lembutnya belaian angin
Hangatnya sinar mentari tak mampu menghangatkan hatinya yang mulai beku
Ketakutan ini membuncah memenuhi asa
Sinar matanya meredup
Pipinya pun telah lembab
Dia menutup matanya
Ada kalanya ketika kau harus menyerah
Ada kalanya kau harus menyandarkan pundakmu yang lelah
Ada kalanya kau harus melepas topeng ketegaranmu
Begitu pula dengannya
Gadis itu begitu tegar
Gadis itu begitu kuat
Gadis itu benar-benar tangguh
Menyembunyikan topeng yang bahkan hampir pecah saat ini
Begitu takut...
Perasaan takut itu benar-benar menjarah hatinya
Memaksanya memecahkan topengnya
Tapi ia tak mampu
Mempercayai artinya tersakiti
Tapi tak ada seorangpun yang mampu
Bertahan dalam topeng ketegarannya
Ingin sekali rasanya menyandarkan kepalanya
Tapi pada siapa
Ia tak berani berjudi dengan waktu
Ia tak berani bertaruh dengan detik
ia tak berani mempertaruhkan hatinya
karna itu akan membunuhnya
Ia hanya berusaha mengimbangi aliran air
Karena jika ia melawan ia akan terhanyut dan hancur
Menetes... terus menetes...
Darah dari lukanya terus menetes
Memberi kehidupan untuk pucatnya kulitnya
Memerahkan setiap jengkal pori-porinya
Sakit... sakit sekali rasanya
Dia ingin mengeluh, menjerit
Untuk apa?
Menerima ocehan atas ketegarannya
Tidak akan!
Ia hanya menggeram menggenggam jantungnya
Mencoba menghilangkan sakit di jantungnya
Terus.. dan terus...
Genangan air mata bercampur darah tak lagi bisa dibedakan
Menyatu bagaikan saling percaya
Tapi tidak dengan si empunya
Hatinya telah beku
Ya... beku
Beku dengan kepercayaan
kebekuan yang membekukan nafasnya

Senin, 19 Desember 2011

Aku Masih Menunggu

Gemerisik dunia mengusik tenangnya jiwa
Mengubah ketakutan menjadi asa
Mengenalkan rasa pada cinta

Ada pohon karena hadirnya air
Ada pantai karena deburan ombak
Pasir terbang karena angin memberinya sayap
Hati ini ada karena dirimu

Kugoreskan harapan dikanvas hidupku
Kuhadirkan pagi menanti melodimu
Kuguratkan senyum menanti rasa dimata hitammu

Ku bertemu diriku dimatamu
Ku membangun harapan lewat senyummu
Bentangan jalan terjal kan kulalui untukmu

Namun kau hatimu terlalu dingin untuk kusentuh
Kau terlalu dangkal untuk ku selami
Kaupun terlalu dalam untuk kumengerti
Kau tebing tinggi yang sulit kudaki

Seakan kau pasang berjuta tameng untukku
Hingga aku rapuh
Kau terus merasuki mimpiku
Hingga aku tenggelam

Aku tak pernah mundur
Hanya aku tak berani melangkah
Aku hanya menanti
Sebuah misteri yang tak pasti

Aku hanya menanti
Dirimu menjawab teka-teki hati
Hingga bias warna pelangi senja
Meredup terkubur oleh waktu tak bernyawa

Orang Ketiga


Dulu...
Dulu sekali
Aku bisa menjalani ini
Aku bahagia meski hanya menatap goresan senyum di wajahmu..
Aku tetap tersenyum asalkan kau tersenyum
Meski senyum itu untuk orang lain
Orang yang menciptakan skenario kita
Dengan aku sebagai orang ketiga
Orang ketiga yang hanya mampu menatap bayangmu
Aku telah kehilangan harap
Aku bagai burung cacat yang tersesat
Kau lenteraku
Dan kini lentera itu dibawa pergi
Tahukah kau
Aku berjalan dalam gelapnya dunia
Tak tahu dimana aku seharusnya
Tapi aku begitu takut
Ketika lentera itu datang
Aku takut cerahnya dunia menghidupkan gelapku
Dan aku kehilanganmu
Untuk kesekian kali...

"Ibu tiri itu ADA"

Kisah ibu tiri ataupun ayah tiri yang jahat mungkin banyak disangkal. Tapi banyak hal terjadi seperti apa yang dikisahkan dalam sinetron maupun film-film. Bahkan terkadang lebih tragis dan menyedihkan dari apa yang dibayangkan.
Ibu tiri yang baik hati mungkin hanya 1:1000. Mungkin kedengarannya terlalu melodramatic. Tetapi begitulah kenyataannya.
Banyak kisah nyata kehidupan dari seorang anak broken home dengan dua keluarga. Keluarga ayah dan ibu tirinya. Juga keluarga ibu dan ayah tirinya. Keduanya memberi pilihan buruk bagi sang anak. Jika ia hidup bersama ayahnya. Maka ia harus menerima ketidakadilan yang dihadirkan oleh ibu tirinya. Namun bagaimana lagi.
Jika hidup dengan ibunya,ia dianggap sebagai tamu yang berniat jahat oleh ayah tirinya. Anak berumur 1 tahun yang tak punya pilihan.Hanya karena keadaan yang membuat ayahnya harus bercinta dengan orang lain dan meninggalkan ibunya. Anak yang benar-benar mengalami apa itu ayah tiri. Ataupun bagaimana sikap seorang ibu tiri.Bahkan airmatanya telah mengering.
Saking akrabnya dengan kepedihan. Ketika saudaranya, adiknya. Adik yang satu ayah dengannya dibelikan sebuah mobil-mobilan oleh ibunya. Anak yang lucu ini hanya mendapatkan omelan dari ayahnya. Mungkin kisahnya tak sesingkat cerita dalam sinetron. Kehidupannya tak sekedar satu jam setiap harinya. Namun dialami dalam berpuluh-puluh tahun hidupnya. Bahkan jika dijadikan sebuah film kisahnya tak akan cukup untuk sekali saja.Mungkin akan ada session 2 dan seterusnya. Tak hanya menguras airmata. Tapi menggemakan isakan tangis.
Bertahun-tahun anak itu menjalani hidupnya dengan ketidakadilan. Mungkin dalam hatinya ingin rasanya mendapat pelukan ibunya. Dan tertawa bersama ayahnya setelah ayahnya pulang kerja. Tapi itu hanya harapan baginya. Bahkan dia tak akan berani bermimpi seperti itu. Ketika adik laki-lakinya yang terpaut 2 tahun darinya tumbuh dengan kasih sayang. Bisa mendongak ketika berjalan. Ia, anak lelaki tampan itu hanya tersenyum ramah dan berjalan lurus. Ketika adiknya mendapat sebuah jeans baru. Anak itu hanya menatap celana robek yang sudah bertahun-tahun menemaninya.
Ia kuat karena ini hidupnya bukan hidup mereka. Masa kecil yang kelam telah ia lalui.Bahkan ketika ia dewasa, adik tirinya pun tak mau, malu mengakuinya sebagai anggota keluarganya. Mengasingkannya bagaikan orang yang memiliki penyakit menular.
Mungkin kedengarannya terlalu dramatis.Tapi inilah kenyataan hidup. Dan hebatnya anak itu bertahan bagi karang yang selalu tersakiti oleh ombak. Karena ini tentang karang bukan tentang ombak.
Seharusnya setiap orangtua menyadari bahwa anaknya juga butuh kebahagiaan.Bukan hanya memikirkan nafsunya saja. ‘anak’memang sering diabaikan oleh para orangtua.Tapi penderitaan mereka kan mereka kenang sepanjang hidupnya. Terkadang anak hanya korban. Bagaimana sikap orangtuanya. Itulah cetakan yang akan membentuk sikap anaknya.
Setiap orang memiliki kisah mereka masing-masing. Kisah itu tidak dilukis olehnya sendiri tapi sebagian diukir oleh kedua orangtuanya.