Lembar coretan

Kenapa setiap ketulusan hanya menimbulkan kesalahpahaman? Kenapa setiap tekad hanya akan direndahkan?Kenapa orang terdekat mampu melukai sedalam ini? Kenapa orang terdekat mampu melukai sesakit ini? Kenapa orang terdekat mempu merobek angan tanpa menoleh lagi?

Senin, 09 Juni 2014

Voice of Galaksi Bima Sakti

Pembelajaran IPA adalah pembelajaran dimana lebih menekankan pada pendekatan keterampilan proses, hingga siswa menemukan fakta-fakta, membangun konsep-konsep , teori dan sikap ilmiah siswa itu sendiri yang akhirnya dapat berpengaruh positif terhadap kualitas proses pendidikan maupun produk pendidikan (Trianto, 2010:141). Pembelajaran tersebut didapatkan dengan pengalaman langsung, dengan membawa siswa menuju objek pengetahuan atau dengan membawa objek pengetahuan ke depan siswa.
Voice of Galaxy Bimasakti merupakan sebuah sebuah inovasi media pembelajaran agar membawa siswa ke dalam pembelajaran yang asyik dan menyenangkan.Media ini merupakan media yang ditujukan untuk kelas 6. Media ini merupakan representasi dari KI 3 dengan salah satu kompetensi dasar pada mata pelajaran IPA.




1.            Komponen Media
-             Model Galaksi Bima Sakti dilengkapi dengan suara sebagai informasi
-             Model matahari yang bercahaya
-             Kartu “Tebak Aku”
-             Buku petunjuk penggunaan
2.            Cara Kerja Media
-          Letakkan media di tempat yang datar
-          Tekan salah satu tombol agar matahari bersinar
-          Tekan tombol yang lain agar  informasi suara dapat terdengar
-          Kartu bisa digunakan sebagai evaluasi berupa kompetisi
-          Kartu berisi clue mengenai karakteristik planet untuk ditebak
Penggunaan dalam Kelompok Kecil di Luar Kelas
Berikut adalah langkah permainan dalam kelompok kecil di luar pembelajaran di kelas:
1)      Kelompok berjumlah lebih dari 3 orang
2)      Bersama-sama melihat dan mendengarkan demonstrasi dari VGB
3)      Mengingat kembali apa yang telah dilihat dan didengar
4)      Bermain tebak-tebakan menggunakan kartu kuis.
5)      Satu persatu diberi 3 kartu secara tertutup.
6)      Setelah mendapat kartu, jika bisa langsung menebak jawabannya
Jika tidak bisa, mengambil kartu lagi.
7)      Jika bisa menebak maka kartu yang sudah ditebak ditutup di depan pemain.
8)      Pemenang adalah yang mampu menebak kartu paling banyak, yaitu yang kartu yang ditutup di depannya paling banyak.
Penggunaan dalam Pembelajaran di kelas
Media ini diaplikasikan di dalam pembelajaran tema Selamatkan Makhluk Hidup. Namun jika memungkinkan media ini juga bisa digunakan dalam pembelajaran lain.
Langkah permainan dalam kelas
1)         Siswa dibagi menjadi 9 kelompok dan duduk melingkar
2)         Masing-masing kelompok merupakan tim ilmuwan dari satu benda langit
3)         Kelompok 1 diberi kesempatan untuk melihat secara dekat media dan mendengarkan informasi mengenai tugas untuk kelompok 1 (semisal tim ilmuwan matahari)
4)         Secara bergantian setiap kelompok diberi kesempatan untuk mengamati secara dekat media VGB
5)         Sambil menunggu giliran kelompok lain ikut mendengarkan informasi dari VGB
6)         Setelah semua kelompok mendapatkan giliran, setiap kelompok menggambar galaksi Bima Sakti di kertas gambar yang disediakan
7)         Kemudian menuliskan ciri-ciri dari benda langit yang diamati dan didengarkan informasinya
8)         Setiap kelompok menunjuk 1 orang untuk menjadi professor dari tim ilmuwan.
9)         Setiap professor berkeliling untuk mempresentasikan hasil diskusi dari tim ilmuwannya, untuk setiap kunjungan diberi waktu 5 menit.
10)     Setelah kunjungan tim ilmuwan selesai, 3 kelompok (missal kelompok 1,2,3) bergabung menjadi 1, sehingga dalam kelas sekarang terdapat 3 kelompok besar.
11)     Kelompok besar ini akan melakukan Kompetisi “Tebak Aku”
12)     Masing-masing kelompok mewakilkan 1 orang untuk bertindak sebagai juri
13)     Wakil kelompok besar 1 menjadi juri kelompok besar 2, begitu pula wakil kelompok 2 dan 3
14)     Di depan kelas terdapat tumpukan kartu galaksi yang harus ditebak oleh masing-masing kelompok
15)     Setiap kelompok berbaris 1 banjar ke belakang di depan masing-masing tumpukan kartu
16)     Peraturannya permainan “Tebak Aku”  berlangsung selama 25 menit
17)     Secara bergantian siswa mengambil kartu yang ada di depan dan berlomba menebak jawabannya.
18)     Setiap kelompok berkompetisi untuk menjawab clue sebanyak-banyaknya
19)     Jika jawabannya benar maka akan mendapatkan bintang, namun jika menjawab salah maka bintang yang sudah didapatkan dikurangi.
20)      Juri bertugas untuk memberi dan mengambil bintang dan memutuskan apakah jawaban benar/salah.
Dalam tumpukan kartu terdapat 1 kartu bintang, dimana jika mendapatkan kartu tersebut maka ketika menjawab salah tidak akan dikurangi bintangnya namun diganti dengan kartu tersebut yang diambil.

Kamis, 01 Maret 2012

Mawar Abu-Abu


Kelamnya malam menarik perhatianku. Gelapnya warna langit itu menenggelamkan pandanganku. Membiarkanku mencurahkan seluruh asaku ke kedalaman langit yang tak berujung. Berjalan dengan diiringi riuh jangkrik bernyanyi. Sedikit mengusir keheningan yang menghantuiku. Pepohonan-pepohonan bergoyang seolah ikut menemaniku dalam kesendirianku.  Mengiringiku dengan musik-musik kehidupan yang selalu anggun dalam harmoni.

Hatiku telah terkungkung dalam kebekuan rasa. Akupun telah membiarkannya begitu percaya. Seperti malam percaya pada bulan dan bintang yang mengiringinya. Seperti matahari percaya pada sinar yang membuatnya berharga. Seperti air percaya pada bening yang selalu menjadi jati dirinya. Namun kini semuanya seolah menghujam kepercayaanku selama ini.

Aku terus menatap langit yang semakin kelam. Mengiringi hatiku yang juga mulai menjadi kelam. Tak kusangka mataku telah basah oleh rasa sakit. Kekecewaan ini memburuku.

Apakah orang yang kupikirkan saat ini juga memandang langit yang sama denganku?

Apakah dia tahu bagaimana rasaku?

Payung-payung mendung itu berarak-arakan. Mengejekku yang termenung dalam kesakitan. Hujan pun tak mau turun untuk sekedar menemaniku. Hanya dingin yang menaungi abu-abu hatiku yang kini mulai menghitam.

“Ingatkan aku ya kawan” ucapku pada kawanku yang dari tadi duduk dibelakangku.

Ita selalu mendengarkan keluh kesahku. Dia yang paling sering mendengar cerita-ceritaku tentang orang itu. Orang yang menyita pikiranku. Yang dengan halus melepaskan anganku hingga jatuh dalam kesakitan.

“Maju lah Li! Udah terlanjur basah!” ucapnya tanpa dosa.

Aku hanya tersenyum simpul. Namun senyumku itu tersamarkan oleh kelamnya langit.

“Kamu kuatkan Li?” Tanya sahabatku itu padaku. “Jangan pernah menangis untuk hal seperti itu ya.” Tambahnya sambil menepuk pundakku lalu beranjak meninggalkanku.

Tepat setelah itu pertahananku runtuh sudah. Lia tak lagi kuat seperti dulu. Lia kembali rapuh oleh kekecewaan yang kini mengurungku dan seolah tak mau melepaskanku.

Berkali-kali kubaca semua deretan jejak-jejak kisah yang tak mungkin kumasuki. Kisah itu bagaikan pisau tajam yang menghujam jantungku. Terasa sakit namun tak berdarah. Mungkin jika luka itu benar-benar berdarah tidak akan begitu menyiksa seperti ini.

Semakin ku genggam jantung ini, semakin aku ingin membuat rasa sakit ini menjadi nyata. Membuat semua berakhir tanpa rasa. Tapi hidupku tak hanya disini bukan. Sejenak aku hanya ingin menikmati sepenggal kisah hidupku yang tak akan sepanjang sungai Gangga.

Malam kian berselimut kelam. Gelapnya semakin pekat. Udara dinginnya semakin membekukan. Sementara rasa sakit ini semakin menyiksaku. Deretan kisah itu mengiris perlahan kisah abu-abuku. Sejenak aku teringat kata-kata kawanku sebelum ini.

“Lia, kisahmu terlalu abu-abu. Suatu saat nanti kamu yang harus mengakhirinya dengan putih atau malah dengan hitam.”

Kata-kata itu terngiang-ngiang di otakku dan semakin menyiksa batinku. Kepercayaan ini telah tertambat sedalam akar pohon kaktus pada gurun pasir. Kisahku telah mengalir hingga sungai Nil. Tapi entah kenapa sungai itu tiba-tiba kering. Kaktus itu terkena badai pasir dan menghilang tertelan debu.

Untuk kesekian kalinya kupandangi deretan kata-kata itu. Semakin jauh semakin sakit rasanya. Tanpa kusadari Ita kembali duduk dibelakangku sambil menutup lembaran kisah tentang orang itu yang sedari tadi kubaca.

“Hentikan! Semua akan indah pada waktunya kawan!” ucapnya sambil menutup lembaran-lembaran itu.

“Memang abu-abu harus berakhir dengan jelas ya Ta?” tanyaku sambil menenggelamkan pandanganku di kelamnya langit.

“Hm!” gumamannya tak mampu menjawab rasa penasaranku. Aku menyenggol lengannya pelan. Berharap ada jawaban lain yang keluar dari mulut kawanku yang satu ini.

“Pada akhirnya yang abu-abu harus memilih akan menjadi putih atau malah menjadi hitam saja. Aku sudah pernah mengatakannya kan!” Tambah sahabatku itu.

“Ya, kurasa kamu benar Ta!” aku masih terus memandangi langit. Hujan telah memudarkan senyumku. Mendungpun ikut menerjang ceriaku. Aku menarik nafas berat.

“Pada akhirnya abu-abu ini berakhir jadi hitam. Meski aku ingin bertanya kenapa abu-abuku tak jadi putih saja?”. Semua pertanyaan itu berputar diotakku tanpa ada yang mau menjawabnya. Hingga jawaban singkat keluar dari mulut Ita.

“Karena bunga kan bersemi pada waktunya nanti”
Pada akhirnya kisah abu-abu harus memilih menjadi hitam atau menjadi putih
Saat ranting putih yang berpihak mungkin saat itulah mawar siap untuk mekar di waktunya



Lutfiana 26 Februari 2012 15.15

Selasa, 21 Februari 2012

Ketika Hujan Turun



Aku menatap dingin hujan diluar sana. Tetes-tetes air itu membasahi setiap helai dedaunan. Membasahi tanah-tanah yang seolah rapuh tanpanya. Embun-embun hujan itu berlarian kesana kemari hingga beberapa tetesnya jatuh di tanganku. Aku mengusapnya dengan tanganku yang lain.
Aku sedikit merasa iri pada hujan itu. Mereka selalu bersama-sama. Tak pernah ada hujan yang pergi seorang diri. Tidak sepertiku. Sudah lebih dari 3 jam aku duduk disini. Menanti ketidaktahuan yang seolah menghantui.
Embun-embun hujan itu seolah semakin mengejekku. Mengejek kesendirianku. Mataku menatap dingin tetesan hujan itu. Sedingin tubuhku kini. Aku mengusap bahuku yang mulai gemetar karena dingin.
Kualihkan pandanganku pada awan mendung yang menggelayut manja di ujung langit. Mengiringi hujan yang belum mau terhenti. Gemerisiknya mulai mengusik telingaku. Membuyarkan beberapa hal yang mulai terpikir olehku.
Terbersit di otakku ingatan tentang seseorang yang begitu kukenali. Yang akhir-akhir ini menghiasi hidupku. Orang yang diciptakan untuk hadir di perjalananku. Orang yang mulai menggoncangkan pertahanan hatiku. Yang bersedia membawa hatiku bersamanya.
Hei hujan, tahukah kamu aku mulai bimbang. Beberapa detik yang lalu dia datang. Menyapaku seperti biasanya. Tapi ada yang berbeda dari caranya berucap, juga tatapan matanya. Ucapannya tak lagi hangat seperti dulu. Bahkan tanpa senyum ataupun candaan yang selalu memancing tawaku. Tatapan matanya tak seteduh dulu. Ada bara emosi yang tersirat darinya. Ada gelap yang menaunginya. Ada kesenduan yang menghiasinya.
Ingatanku mulai kembali ke saat itu. Ketika salah satu kawanku menasehatiku tentang pilihanku.
“Lia, kamu itu nggak boleh percaya segampang itu. Kepercayaan itu satu hal yang rapuh Lia.”, salah satu kawanku mengatakan hal itu dulu.
Aku terlanjur percaya. Meletakkan hatiku disana.
Aku beranjak dari dudukku. Menghampiri tiap tetes hujan yang kini juga menetes dipipiku. Aku menengadahkan tanganku hingga beberapa tetes hujan itu jatuh di tanganku. Tetes-tetes hujan itu juga membasahi lengan bajuku. Sementara beberapa tetes hujan yang menetes di tanah ikut mengenai rok panjangku. Mengotorinya dengan tanah-tanah basah yang coklat itu.
“Dingin..”, ucapku lirih.
Rasa dingin ini. Merasuk kedalam kulitku. Hingga mencapai hatiku.
Aku tertarik untuk melangkah lebih jauh ke dalam derasnya hujan. Menyembunyikan tetesan hujan yang mulai membasahi pipiku. Tapi aku merasakan seseorang menarik lenganku.
“Apa yang sedang kamu lakukan?”, ucapnya dingin sambil membalikkan tubuhku.
Mata kami sekilas bertemu. Mata itu masih dingin seperti beberapa saat tadi. Aku menundukkan pandanganku, tak ingin dia membaca keresahanku. Dia menengadahkan tanganku lalu memberikan beberapa helai tissue di tanganku.
Kulihat dia akan berbalik. Hingga kurasakan dia meletakkan jaketnya diatas kepalaku. Dia tidak peduli jaketnya ikut basah akibat kerudungku yang basah oleh hujan. Tepat setelah itu dia berbalik pergi tanpa mengucapkan satu katapun.
Air mataku terus menetes diiringi hujan yang semakin deras. Tapi entah kenapa aku tersenyum. Tersenyum dibalik derasnya hujan yang mendinginkan tubuh dan hatiku.
Dengan diam pun 
kau tetap bisa menunjukan bahwa kau peduli

Lutfiana, 19 Februari 2012 15.19

Senin, 06 Februari 2012

Hujan Kala Senja


Mendungnya senja menyamarkan rasaku
Jantung semakin terpacu oleh harapan
Duduk sedekat ini denganmu
Menanti setiap kata yang meluncur dalam alunan suara
Membuka setiap lembar kehidupan
Menyimak setiap potong kata
Aku belajar mendengarkan
Mendengarkan setiap asa yang tersirat dimatamu
Sedekat ini denganmu
Membekukan jengkal uratku
Hujan turun seolah ingin mengurungku
Disini, disampingmu
Menikmati senja berlantun bersamamu
Hujan menjebak rasaku seperti hadirmu
Meski hati sedikit tersadar
Terbentang jarak yang tak sanggup ku kejar
Angin ini meniupku pergi
Ketika angan mulai merapuh lagi

Sabtu, 28 Januari 2012

Tak Pentingkah Kehadiran Saya?



Tak pentingkah kehadiran saya?
Setiap jengkal langkah mulai merapuh
Diri ini mulai melemah                     
Sekuat tenaga bertahan
Berdiri dalam kerapuhan
Kaki-kaki kecil ini tak kuat lagi menopang
Tangan ini mulai gemetaran
Pena mulai menari tanpa henti
Pena pun tak kalah letih
Setiap sel  darah mulai lelah mengalir
Jantung mulai lelah berdetak
Matapun mulai enggan mengangkat kelopaknya
Hingga nafaspun mulai engan mengalir membasuh raga

Lutfiana, 28 Januari 2012 17.22

Selasa, 24 Januari 2012

Happy Birthday My Friend!

Today is my lovely bestfriend birthday..

Happy birthday to indy
Selamat ulang tahun buat indi
Sugeng tanggap warsa neng indi
Otanjoubi omedetou indi san
Saengil chukkae hamnida indi ssi

Semoga panjang umur, sehat selalu, cepet dapet jodoh, dan persahabatan kita bertahan bahkan sampe di kehidupan setelah mati nanti.
Persahabatan kita adalah persahabatan terindah yang kita lalui. Allah mempertemukan kita dalam sebuah lika-liku jalan yang bahkan tak kita sadari.  Jalan yang bergelombang, penuh kerikil dan juga lubang. Meski terkadang tertatih. Meski terkadang terantuk batu. Meski terkadang terjerembab dalam lubang. Kita tetap berjalan. Meski terkadang rapuh dan letih.
Perjalanan kita begitu panjang kawan.
Goresan-goresan perjalanan itu menjadi sebuah cerita.
Cerita indah.
Ketika kita saling menopang
Ketika kita saling bergandengan tangan.
Ketika kita berbagi senyuman.
Kaki kecil kita melangkah mengikuti cerita dan rencana Allah.
Ketika kita dikecewakan oleh sebuah keputus-asaan.
Ingatkah kau kawan.
Hidup kita bagaikan pilihan kedua.
Kita berjalan dalam jalan yang dipilihkan Allah untuk kita
Kita bertemu.
Berbagi jalan
Berbagi kawan
Berbagi senyuman.
Kemudian takdir kita berlanjut
Pilihan jalan yang berbeda mempertemukan kita pada tujuan yang sama

Membagi senyum pada makhluk lain
Membagi tawa pada jalan orang lain
Kita menemukan kaki-kaki lain
Melalui jalan tuhan dengan berbagai keinginan
Menyatukan berbagai rasa berbagai cerita
Kebetulan jalan kita sama
Meskipun kita berbeda
cara tersenyum berbeda
Kehidupan yang berbeda
Membuka gerbang kehidupan kita bersama
Mengarungi dunia dengan tetap tertawa
tawa kita seolah mengalahkan bisingnya negara
Langit terus menaungi kita.
membagi senyum saat duka
Membagi tawa
Membagi ruang kecil hati kita
untuk bernafas bersama
Tetap berbagi tawa
meski kita sedang ada di lorong gelap yang sama
berbagi cerita
meski hati kita sedang bergidik ngeri
tetap berbagi rasa
meski kaki-kaki kecil kita terjebak dalam genangan air  yang sama
Entah harus dibilang ajaib atau apa
kita tetap tertawa meski kita terjebak dalam kegelapan
tetap tertawa bahkan ketika tangis membahana
Senyum kita mengalahkan pesona dunia
Senyum kita mengobati luka dunia
Kebersamaan kita mengobati lara di jiwa
Tetap tegar dalam gelap
tetap tersenyum dalam gelap
tetap narsis dalam gelap
Kita adalah kita
jangan pedulikan apa kata dunia
Biarkan diri terus berangan
Menerbangkan keinginan
menitipkan angan pada langit yang tak berujung
kita adalah tokoh utama di hidup kita

Mungkin berbagi ruang hati saja tidak cukup
Berbagi isi perut mungkin itu melengkapi
Ingat ini kawan
Bersama menaklukan malam
Meramaikan heningnya dedaunan
dengan tawa kita
dengan canda kita
Menciptakan rasa manis
manis dalam brownies
Semanis senyum kita
Coklat itu memang tak begitu manis
ada sedikit rasa pahit di dalamya
tetapi karena itulah dia istimewa
Berbagi dalam duka
meski ada yang tertawa
Berbagi dalam keharuan
meski ada yang salah mengekspresikannya
Berbeda tapi tetap satu
Belajar saling memahami
saling mengerti
saling menghormati
dan saling-saling yang lainnya

Tingkah konyol kita
tak luput melukiskan tawa
menggoreskan harapan dalam pahitnya kehidupan
Kita membagi kekonyolan kita
membagi kebahagiaan
membagi duka
membagi cerita
yang pasti tidak membagi cinta
hehhehehe
Persahabatan kita bagaikan sepasang sandal ini
jika yang satu hilang maka tak akan berguna lagi


Happy Birthday
Ari Indiastuti

Untuk persahabatan kita
Ari Indiastuti 25 januari 1993
Tiara Ayu Putri 4 Maret 1994
Rizky Fitriana 1 April 1993
Zuni Suryanti 10 Juli 1993
Elia Berliana 18 Juli 1993
Lutfiana 8 Desember 1993




Lutfiana 25 Januari 2012 13.18

Mimpi Demi Hati

“Berbahagialah ketika kau memiliki kesempatan kedua dalam hidupmu”




Aku terbangun dari tidurku. Seperti biasa menengok jam dan tanggal. Sudah menjadi kebiasaanku ketika aku bangun maka aku akan memperbarui ingatanku tentang hari ini.

6 Februari 2011
16.00

Tunggu dulu! 2011? Yang benar saja ini 1 tahun yang lalu. Aku mencoba memeras otakku untuk mengingat-ingat apa yang terjadi padaku. Sehingga aku terbangun setahun yang lalu.

Ahhh! Aku ingat malam itu aku memohon kepada tuhan, meminta agar waktu bisa ku putar kembali ke masa itu. Ketika aku menyakiti hati seorang gadis yang mau memberikan hatinya untukku. Seorang gadis yang begitu tulus. Gadis lugu nan polos itu.

Oh iya tanggal ini. 6 februari 2010. Tanggal dimana aku melukainya. Meninggalkannya setelah mengambil hatinya aku pergi bahkan tanpa mengucapkan bahwa aku juga menyukainya.

Aku tahu ini tak akan mengubah apapun. Tapi paling tidak aku pergi tanpa membuatnya terluka. Aku kembali untuk mengucapkan apa yang belum kuucapkan. Melakukan apa yang belum kulakukan.

Tepat pukul 19.00 aku berlari menuju tempat kami bertemu. Aku berharap gadis itu belum sampai. Dulu sebelum aku meninggalkannya tanpa kata, aku berjanji untuk menemuinya. Mengucapkan yang seharusnya aku ucapkan. Di sini, di Alun-alun kota.

“Hai!”, ucap gadis itu berdiri sambil tersenyum menyambutku. Senyum itu. Masih senyum yang sama yang selalu dia pamerkan untukku.

“Udah lama Fi?”

Aku duduk disampingnya sambil menyelaraskan nafasku. Fia, gadis itu hanya mengangguk sambil duduk disampingku. Kulihat dia mengulum senyum.

“Ada yang...”, kami membuka suara bersamaan. Aku jadi penasaran apa yang ingin dia katakan. Aku menyuruhnya mengungkapkannya terlebih dulu.

“Aku semalam bermimpi aneh.”, aku menatapnya. Kulihat dia menerawang jauh di gelapnya langit. Seolah mencari-cari sesuatu. “Aku bermimpi aku menangis sendirian disini. Kamu nggak dateng dan aku disini menangis sendirian.” Tambahnya sambil menatapku lekat-lekat.

Aku menggenggam tangannya. Mencoba menghilangkan keresahan dalam hatinya. Aku mencoba menahan setiap pergolakan dalam hatiku. Aku harus menjelaskannya pelan-pelan.

“Maafkan aku.”

“Kenapa minta maaf? Kamu dateng kesini kan. Kamu nggak bikin aku nangis. Kamu...”

“Belum.” Aku memotong perkataannya. Aku tak bermaksud. Tapi sulit mengatakannya. Fia menatapku bingung.

“Aku juga menyukaimu fi!”

Kulihat Fia tercengang mendengar kata-kata yang keluar dari mulutku. Tapi sejenak kemudian dia tersenyum. Senyum terindah yang dia perlihatkan padaku. Oh tuhan, bagaimana aku bisa meninggalkannya sekali lagi? Kemudian aku menggenggam tangannya lebih erat.

“Makasih. Makasih kak.”

“...”

“Ini seperti mimpi kak. Kamu disini dan mengatakan hal itu padaku. Malam ini memang tak berbintang. Tapi aku tetap senang karena ada bintang disampingku.”

Aku tak menduga gadis ini menangis. Sebegitu bahagianya dia. Airmata itu menuruni pipinya. Tapi dia tetap tersenyum. Airmatanya seolah berkilau terkena sinar lampu disekitar kami.

“Maafkan aku. Aku benar-benar minta maaf. Aku hanya bisa mengatakan aku menyukaimu. Aku menyayangimu. Aku sangat sangat menyukaimu.”

Aku tak mampu meneruskan kata-kataku. Kilauan permata itu masih ada di pipinya. Sinar terang matanya itu masih begitu terang. Aku tak sanggup meredupkannya lagi.

“Kak, apa maksudmu?”, suara lembutnya keluar penuh dengan tanda tanya.

“Seharusnya aku mengatakan itu di saat yang sama setahun yang lalu. Mengatakan bahwa aku menyukaimu. Bahwa aku ingin kamu bersamaku di sisa umurku. Bahwa aku selalu memikirkanmu.”, aku mengatakannya perlahan-lahan. Seolah tak mau kehilangan moment ini.

“Kak...”

Fia menatapku penuh kebingungan. Aku tak sanggup melihat wajahnya. Aku menundukkan wajahku berusaha menenangkan diriku. Aku harus mengatakannya.

“Sekarang aku nggak bisa mengatakan seperti apa yang kurencanakan dulu. Aku akan berhenti menyukaimu sekarang. Aku harus pergi.”

“Kak, kamu ngomong apa? Aku nggak ngerti.”

“Ingatlah aku pernah menyukaimu. Ya? Aku pergi. Aku kembalikan hatimu, berikan itu pada orang yang menyayangimu.”

Dengan berat hati aku melepaskan tangannya. Aku melihatnya meneteskan airmatanya lagi. Aku langsung berbalik dan berjalan menjauh. Aku tak mau berjalan mundur dan melihatnya menangis.

Aku melihatnya menundukan kepalanya. Menyembunyikan tangisan yang bahkan tanpa suara. Tak berapa lama kakaknya yang tadi menemaninya menghampiri. Aku tahu pasti dia mengabarkan kepergianku.

Aku diijinkan berdiri disini memandangi gadis itu. Gadis yang sedang terduduk di tempat tidurnya. Mengusap setiap airmatanya. Tanpa sadar ada permata yang berkilau ditanganku. Ini, airmata Fia.

“Irham... apa kakak disini?” suara itu tiba-tiba keluar dari mulut Fia.

Iya Fia, aku disini. Aku disini.

“Kak, mimpi ini. Apa kamu datang ke dalam tidurku kak?”, gadis itu berucap sambil menerawang lurus seolah sedang menatap kedalam mataku.

Demi kamu. Aku ingin mengatakan yang belum sempat kukatakan.

“Kak, makasih. Kamu ngasih aku kejelasan kak. Aku memang nggak rela kamu pergi. Aku mengunci diriku, menutup diriku dihadapan semua orang setelah kamu pergi. Tapi, kini aku tahu. Aku akan meneruskan hidupku untukmu kak. Aku akan bahagia untukmu kak.”

Kulihat dia beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan keluar. Sambil mengusap airmatanya dia keluar dari kamar minimalisnya. Tapi gadis itu tiba-tiba menghentikan langkahnya.

“Oh iya, bolehkah aku tetap membawa cintamu kak?”, ucapnya sambil menyunggingkan senyum. Senyum yang ia simpan setahun ini.

Pertanyaan yang tak perlu kujawab. Aku hanya menganggukkan kepalaku. Tentu saja Fia tak mungkin melihatnya. Aku pergi Fia. Aku pergi.


Lutfiana, 23 Januari 2012 23.11 WIB