Aku menatap dingin hujan diluar sana. Tetes-tetes air itu membasahi setiap helai dedaunan. Membasahi tanah-tanah yang seolah rapuh tanpanya. Embun-embun hujan itu berlarian kesana kemari hingga beberapa tetesnya jatuh di tanganku. Aku mengusapnya dengan tanganku yang lain.
Aku sedikit merasa iri pada hujan itu. Mereka selalu bersama-sama. Tak pernah ada hujan yang pergi seorang diri. Tidak sepertiku. Sudah lebih dari 3 jam aku duduk disini. Menanti ketidaktahuan yang seolah menghantui.
Embun-embun hujan itu seolah semakin mengejekku. Mengejek kesendirianku. Mataku menatap dingin tetesan hujan itu. Sedingin tubuhku kini. Aku mengusap bahuku yang mulai gemetar karena dingin.
Kualihkan pandanganku pada awan mendung yang menggelayut manja di ujung langit. Mengiringi hujan yang belum mau terhenti. Gemerisiknya mulai mengusik telingaku. Membuyarkan beberapa hal yang mulai terpikir olehku.
Terbersit di otakku ingatan tentang seseorang yang begitu kukenali. Yang akhir-akhir ini menghiasi hidupku. Orang yang diciptakan untuk hadir di perjalananku. Orang yang mulai menggoncangkan pertahanan hatiku. Yang bersedia membawa hatiku bersamanya.
Hei hujan, tahukah kamu aku mulai bimbang. Beberapa detik yang lalu dia datang. Menyapaku seperti biasanya. Tapi ada yang berbeda dari caranya berucap, juga tatapan matanya. Ucapannya tak lagi hangat seperti dulu. Bahkan tanpa senyum ataupun candaan yang selalu memancing tawaku. Tatapan matanya tak seteduh dulu. Ada bara emosi yang tersirat darinya. Ada gelap yang menaunginya. Ada kesenduan yang menghiasinya.
Ingatanku mulai kembali ke saat itu. Ketika salah satu kawanku menasehatiku tentang pilihanku.
“Lia, kamu itu nggak boleh percaya segampang itu. Kepercayaan itu satu hal yang rapuh Lia.”, salah satu kawanku mengatakan hal itu dulu.
Aku terlanjur percaya. Meletakkan hatiku disana.
Aku beranjak dari dudukku. Menghampiri tiap tetes hujan yang kini juga menetes dipipiku. Aku menengadahkan tanganku hingga beberapa tetes hujan itu jatuh di tanganku. Tetes-tetes hujan itu juga membasahi lengan bajuku. Sementara beberapa tetes hujan yang menetes di tanah ikut mengenai rok panjangku. Mengotorinya dengan tanah-tanah basah yang coklat itu.
“Dingin..”, ucapku lirih.
Rasa dingin ini. Merasuk kedalam kulitku. Hingga mencapai hatiku.
Aku tertarik untuk melangkah lebih jauh ke dalam derasnya hujan. Menyembunyikan tetesan hujan yang mulai membasahi pipiku. Tapi aku merasakan seseorang menarik lenganku.
“Apa yang sedang kamu lakukan?”, ucapnya dingin sambil membalikkan tubuhku.
Mata kami sekilas bertemu. Mata itu masih dingin seperti beberapa saat tadi. Aku menundukkan pandanganku, tak ingin dia membaca keresahanku. Dia menengadahkan tanganku lalu memberikan beberapa helai tissue di tanganku.
Kulihat dia akan berbalik. Hingga kurasakan dia meletakkan jaketnya diatas kepalaku. Dia tidak peduli jaketnya ikut basah akibat kerudungku yang basah oleh hujan. Tepat setelah itu dia berbalik pergi tanpa mengucapkan satu katapun.
Air mataku terus menetes diiringi hujan yang semakin deras. Tapi entah kenapa aku tersenyum. Tersenyum dibalik derasnya hujan yang mendinginkan tubuh dan hatiku.
Dengan diam pun
kau tetap bisa menunjukan bahwa kau peduli
kau tetap bisa menunjukan bahwa kau peduli
Lutfiana, 19 Februari 2012 15.19

Tidak ada komentar:
Posting Komentar