“Berbahagialah ketika kau memiliki kesempatan kedua dalam hidupmu”
Aku terbangun dari tidurku. Seperti biasa menengok jam dan tanggal. Sudah menjadi kebiasaanku ketika aku bangun maka aku akan memperbarui ingatanku tentang hari ini.
6 Februari 2011
16.00
Tunggu dulu! 2011? Yang benar saja ini 1 tahun yang lalu. Aku mencoba memeras otakku untuk mengingat-ingat apa yang terjadi padaku. Sehingga aku terbangun setahun yang lalu.
Ahhh! Aku ingat malam itu aku memohon kepada tuhan, meminta agar waktu bisa ku putar kembali ke masa itu. Ketika aku menyakiti hati seorang gadis yang mau memberikan hatinya untukku. Seorang gadis yang begitu tulus. Gadis lugu nan polos itu.
Oh iya tanggal ini. 6 februari 2010. Tanggal dimana aku melukainya. Meninggalkannya setelah mengambil hatinya aku pergi bahkan tanpa mengucapkan bahwa aku juga menyukainya.
Aku tahu ini tak akan mengubah apapun. Tapi paling tidak aku pergi tanpa membuatnya terluka. Aku kembali untuk mengucapkan apa yang belum kuucapkan. Melakukan apa yang belum kulakukan.
Tepat pukul 19.00 aku berlari menuju tempat kami bertemu. Aku berharap gadis itu belum sampai. Dulu sebelum aku meninggalkannya tanpa kata, aku berjanji untuk menemuinya. Mengucapkan yang seharusnya aku ucapkan. Di sini, di Alun-alun kota.
“Hai!”, ucap gadis itu berdiri sambil tersenyum menyambutku. Senyum itu. Masih senyum yang sama yang selalu dia pamerkan untukku.
“Udah lama Fi?”
Aku duduk disampingnya sambil menyelaraskan nafasku. Fia, gadis itu hanya mengangguk sambil duduk disampingku. Kulihat dia mengulum senyum.
“Ada yang...”, kami membuka suara bersamaan. Aku jadi penasaran apa yang ingin dia katakan. Aku menyuruhnya mengungkapkannya terlebih dulu.
“Aku semalam bermimpi aneh.”, aku menatapnya. Kulihat dia menerawang jauh di gelapnya langit. Seolah mencari-cari sesuatu. “Aku bermimpi aku menangis sendirian disini. Kamu nggak dateng dan aku disini menangis sendirian.” Tambahnya sambil menatapku lekat-lekat.
Aku menggenggam tangannya. Mencoba menghilangkan keresahan dalam hatinya. Aku mencoba menahan setiap pergolakan dalam hatiku. Aku harus menjelaskannya pelan-pelan.
“Maafkan aku.”
“Kenapa minta maaf? Kamu dateng kesini kan. Kamu nggak bikin aku nangis. Kamu...”
“Belum.” Aku memotong perkataannya. Aku tak bermaksud. Tapi sulit mengatakannya. Fia menatapku bingung.
“Aku juga menyukaimu fi!”
Kulihat Fia tercengang mendengar kata-kata yang keluar dari mulutku. Tapi sejenak kemudian dia tersenyum. Senyum terindah yang dia perlihatkan padaku. Oh tuhan, bagaimana aku bisa meninggalkannya sekali lagi? Kemudian aku menggenggam tangannya lebih erat.
“Makasih. Makasih kak.”
“...”
“Ini seperti mimpi kak. Kamu disini dan mengatakan hal itu padaku. Malam ini memang tak berbintang. Tapi aku tetap senang karena ada bintang disampingku.”
Aku tak menduga gadis ini menangis. Sebegitu bahagianya dia. Airmata itu menuruni pipinya. Tapi dia tetap tersenyum. Airmatanya seolah berkilau terkena sinar lampu disekitar kami.
“Maafkan aku. Aku benar-benar minta maaf. Aku hanya bisa mengatakan aku menyukaimu. Aku menyayangimu. Aku sangat sangat menyukaimu.”
Aku tak mampu meneruskan kata-kataku. Kilauan permata itu masih ada di pipinya. Sinar terang matanya itu masih begitu terang. Aku tak sanggup meredupkannya lagi.
“Kak, apa maksudmu?”, suara lembutnya keluar penuh dengan tanda tanya.
“Seharusnya aku mengatakan itu di saat yang sama setahun yang lalu. Mengatakan bahwa aku menyukaimu. Bahwa aku ingin kamu bersamaku di sisa umurku. Bahwa aku selalu memikirkanmu.”, aku mengatakannya perlahan-lahan. Seolah tak mau kehilangan moment ini.
“Kak...”
Fia menatapku penuh kebingungan. Aku tak sanggup melihat wajahnya. Aku menundukkan wajahku berusaha menenangkan diriku. Aku harus mengatakannya.
“Sekarang aku nggak bisa mengatakan seperti apa yang kurencanakan dulu. Aku akan berhenti menyukaimu sekarang. Aku harus pergi.”
“Kak, kamu ngomong apa? Aku nggak ngerti.”
“Ingatlah aku pernah menyukaimu. Ya? Aku pergi. Aku kembalikan hatimu, berikan itu pada orang yang menyayangimu.”
Dengan berat hati aku melepaskan tangannya. Aku melihatnya meneteskan airmatanya lagi. Aku langsung berbalik dan berjalan menjauh. Aku tak mau berjalan mundur dan melihatnya menangis.
Aku melihatnya menundukan kepalanya. Menyembunyikan tangisan yang bahkan tanpa suara. Tak berapa lama kakaknya yang tadi menemaninya menghampiri. Aku tahu pasti dia mengabarkan kepergianku.
Aku diijinkan berdiri disini memandangi gadis itu. Gadis yang sedang terduduk di tempat tidurnya. Mengusap setiap airmatanya. Tanpa sadar ada permata yang berkilau ditanganku. Ini, airmata Fia.
“Irham... apa kakak disini?” suara itu tiba-tiba keluar dari mulut Fia.
Iya Fia, aku disini. Aku disini.
“Kak, mimpi ini. Apa kamu datang ke dalam tidurku kak?”, gadis itu berucap sambil menerawang lurus seolah sedang menatap kedalam mataku.
Demi kamu. Aku ingin mengatakan yang belum sempat kukatakan.
“Kak, makasih. Kamu ngasih aku kejelasan kak. Aku memang nggak rela kamu pergi. Aku mengunci diriku, menutup diriku dihadapan semua orang setelah kamu pergi. Tapi, kini aku tahu. Aku akan meneruskan hidupku untukmu kak. Aku akan bahagia untukmu kak.”
Kulihat dia beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan keluar. Sambil mengusap airmatanya dia keluar dari kamar minimalisnya. Tapi gadis itu tiba-tiba menghentikan langkahnya.
“Oh iya, bolehkah aku tetap membawa cintamu kak?”, ucapnya sambil menyunggingkan senyum. Senyum yang ia simpan setahun ini.
Pertanyaan yang tak perlu kujawab. Aku hanya menganggukkan kepalaku. Tentu saja Fia tak mungkin melihatnya. Aku pergi Fia. Aku pergi.
Lutfiana, 23 Januari 2012 23.11 WIB
Wahh..hebat sekali kamu upi..bisa buat cerpen..jadi pengen deh..hehehe...follow punya gue juga ya.. oppikha.blogspot.com
BalasHapushahhaha.. biasa aja beh.. dalam tahap belajar kok.. udah tak follow beb..
Hapus