Kisah ibu tiri ataupun ayah tiri yang jahat mungkin banyak disangkal. Tapi banyak hal terjadi seperti apa yang dikisahkan dalam sinetron maupun film-film. Bahkan terkadang lebih tragis dan menyedihkan dari apa yang dibayangkan.
Ibu tiri yang baik hati mungkin hanya 1:1000. Mungkin kedengarannya terlalu melodramatic. Tetapi begitulah kenyataannya.
Banyak kisah nyata kehidupan dari seorang anak broken home dengan dua keluarga. Keluarga ayah dan ibu tirinya. Juga keluarga ibu dan ayah tirinya. Keduanya memberi pilihan buruk bagi sang anak. Jika ia hidup bersama ayahnya. Maka ia harus menerima ketidakadilan yang dihadirkan oleh ibu tirinya. Namun bagaimana lagi.
Jika hidup dengan ibunya,ia dianggap sebagai tamu yang berniat jahat oleh ayah tirinya. Anak berumur 1 tahun yang tak punya pilihan.Hanya karena keadaan yang membuat ayahnya harus bercinta dengan orang lain dan meninggalkan ibunya. Anak yang benar-benar mengalami apa itu ayah tiri. Ataupun bagaimana sikap seorang ibu tiri.Bahkan airmatanya telah mengering.
Saking akrabnya dengan kepedihan. Ketika saudaranya, adiknya. Adik yang satu ayah dengannya dibelikan sebuah mobil-mobilan oleh ibunya. Anak yang lucu ini hanya mendapatkan omelan dari ayahnya. Mungkin kisahnya tak sesingkat cerita dalam sinetron. Kehidupannya tak sekedar satu jam setiap harinya. Namun dialami dalam berpuluh-puluh tahun hidupnya. Bahkan jika dijadikan sebuah film kisahnya tak akan cukup untuk sekali saja.Mungkin akan ada session 2 dan seterusnya. Tak hanya menguras airmata. Tapi menggemakan isakan tangis.
Bertahun-tahun anak itu menjalani hidupnya dengan ketidakadilan. Mungkin dalam hatinya ingin rasanya mendapat pelukan ibunya. Dan tertawa bersama ayahnya setelah ayahnya pulang kerja. Tapi itu hanya harapan baginya. Bahkan dia tak akan berani bermimpi seperti itu. Ketika adik laki-lakinya yang terpaut 2 tahun darinya tumbuh dengan kasih sayang. Bisa mendongak ketika berjalan. Ia, anak lelaki tampan itu hanya tersenyum ramah dan berjalan lurus. Ketika adiknya mendapat sebuah jeans baru. Anak itu hanya menatap celana robek yang sudah bertahun-tahun menemaninya.
Ia kuat karena ini hidupnya bukan hidup mereka. Masa kecil yang kelam telah ia lalui.Bahkan ketika ia dewasa, adik tirinya pun tak mau, malu mengakuinya sebagai anggota keluarganya. Mengasingkannya bagaikan orang yang memiliki penyakit menular.
Mungkin kedengarannya terlalu dramatis.Tapi inilah kenyataan hidup. Dan hebatnya anak itu bertahan bagi karang yang selalu tersakiti oleh ombak. Karena ini tentang karang bukan tentang ombak.
Seharusnya setiap orangtua menyadari bahwa anaknya juga butuh kebahagiaan.Bukan hanya memikirkan nafsunya saja. ‘anak’memang sering diabaikan oleh para orangtua.Tapi penderitaan mereka kan mereka kenang sepanjang hidupnya. Terkadang anak hanya korban. Bagaimana sikap orangtuanya. Itulah cetakan yang akan membentuk sikap anaknya.
Setiap orang memiliki kisah mereka masing-masing. Kisah itu tidak dilukis olehnya sendiri tapi sebagian diukir oleh kedua orangtuanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar