Kawan terimakasih atas apresiasimu padaku.Tapi aku sendiri berpikir,
Apakah dulu aku sekuat itu?
Apakah aku setegar itu?
Apakah aku seberani itu?
Adakah kau tahu aku tak seteguh itu?
Awalnya aku begitu kukuh. Awalnya kepercayaanku akan perasaan ini tak mudah runtuh. Waktu demi waktu berlalu. Aku masih bisa tersenyum memamerkan deretan gigiku meski hatiku penuh dengan goresan luka yang teramat perih. Cukup bagiku berdiri disampingnya. Atau bahkan diam dibelakangnya. Asalkan dia tak pergi dariku. Asalkan dia tak berlari dariku.
Aku melihatnya dengan keoptimisanku. Aku melihatnya dengan penuh kekagumanku. Lalu sesuatu yang tak pernah kuduga memberondong jantungku. Saat itu akupun dengan begitu sombong masih memamerkan senyum andalanku. Meski setelah itu aku memaki-maki diriku sendiri. Aku mulai kehilangan diriku. Aku mulai muak dengan semua yang kurasakan.
Aku memberanikan diri. Diantara semua ketakutanku aku membiarkannya tahu. Berharap dia mengerti betapa sulitnya aku dan perasaan ini. Awalnya aku berharap jarak kami semakin dekat. Tapi tak kusangka semakin dia tahu, meski kami dekat, seakan ada sejuta tahun cahaya jarak diantara kami.
Setiap kali aku berpapasan dengannya. Ketakutanku seolah semakin memburuku. Dan itu benar. Dia tak menyapaku lagi dengan sapaan hangatnya dulu. Dia tak lagi berbagi denganku seperti setiap pesan yang dia kirimkan dulu.
Tiap kali aku berpapasan dengannya, aku begitu takut. Aku takut menatap matanya. Aku takut bertemu pandang dengannya. Tapi dengan satu keberanian diantara seribu ketakutanku. Aku menatap matanya. Tak kusangka dialah yang memalingkan wajahnya.
Adakah dia tak tega menatap mata senduku?
Aku sendiri tak pernah tahu. Tapi pernah ketika kami bertemu pandang dia tersenyum padaku hanya saja giliranku yang memalingkan wajahku.
Aku terus mencoba tegar diatas semua kerapuhanku.Pernah hati hampir terleleh ketika melihatnya. Mendengarnya memanggilku, mendengar sapaan hangatnya. Tapi semua itu kujaga. Bahkan ketika ia lemparkan aku dalam badai yang menggoncangkan keteguhanku. Aku hampir rubuh kawan. Tapi berkat kau aku bertahan. Tak akan pernah rubuh.
Aku sendiri tak mengerti. Kenapa hati begitu ingin mempertahankan perasaan ini. Aku terus mencoba berjalan di depannya. Tapi malang bagiku meski dengan semua ketegaranku aku tetap berjalan dibelakangnya.
Dulu perasaan ini begitu familiar denganku. Terasa begitu dekat dan begitu kuharapkan. Tetapi semakin kesini perasaan ini menjadi semakin tabu. Semuanya seolah kosong. Aku terus mencari-cari tapi hasilnyapun kosong.
Saat aku kembali tahu aku hanya orang ketiga baginya. Akupun mulai sadar kekosongan ini memuncak. Aku tak pernah berniat melupakan perasaan ini. Karena perasaan inilah aku kembali ke jalan Allah.
Tapi tatapannya tak seperti dulu lagi kawan. Senyumannya tak lagi meluluhkan kesombongan hati. Bahkan ucapannya tak lagi menggoncangkan diri.
Aku terjatuh lagi karenanya. Tapi aku tahu Allah ada untukku kawan. Dan aku selalu berharap ada orang yang mau kembali menerangi jalanku. Menuntunku yang buta akan arah. Yang tuli karena kepedihan. Yang lumpuh bahkan hanya untuk terduduk.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar