Lembar coretan

Kenapa setiap ketulusan hanya menimbulkan kesalahpahaman? Kenapa setiap tekad hanya akan direndahkan?Kenapa orang terdekat mampu melukai sedalam ini? Kenapa orang terdekat mampu melukai sesakit ini? Kenapa orang terdekat mempu merobek angan tanpa menoleh lagi?

Sabtu, 14 Januari 2012

Sejengkal Tujuan

Mendaki gunung bagaikan sebuah filosofi kehidupan. Setiap orang pasti menginginkan peningkatan di hidupnya. Sama seperti orang naik gunung. Ketika seseorang mendaki gunung, ingin cepat mencapi puncaknya.
Orang yang mendaki gunung akan menyiapkan bekal agar ketika perjalanannya nanti tidak kehausan ataupun kelaparan. Orang hidup juga seperti itu. Untuk berkembang menjadi lebih baik, orang haruslah memiliki semangat , tidak mudah putus asa, jujur dan sebagainya.
Ketika awal mendaki gunung, betapa bersemangatnya orang itu. Melangkah dengan langkah lebar. Senyum masih begitu mengembang. Meski beban yang ada di punggung begitu berat. Medan yang dilaluipun tidak mudah. Tapi semangat masih membara.
Namun sampai di pertengahan jalan. Kaki mulai tersandung batu. Ungkapan lelah mulai bermunculan. Lutut sudah mulai gemetaran. Kaki pun ikut lelah setelah mendaki .Air minum sudah mulai habis namun tas punggung masih tetap berat. Keluhan demi keluhan mulai keluar dari mulut. Pilihannya hanya menyerah atau tetap meneruskankan perjalanan yang entah kapan akan selesai.
Begitu pula dengan kehidupan setiap manusia. Ketika awal melangkah meski penuh keraguan, setiap orang akan menjalani hidup dengan penuh semangat. Semua itu dilakukan demi tujuan mereka tentu saja. Tetapi ditengah perjuangan itu banyak hal yang mulai mengganggu. Entah rasa malas, ketidak jujuran dimana-mana. Lalu setiap orang akan mulai tergoda untuk mengubah jalan hidup mereka.
Tetapi ketika sang pendaki meneruskan jalannya. Saat kaki-kaki kecil mulai lelah. Saat setiap jengkal langkah dirasa begitu susah. Hanya tekad. Degup jantung yang terus berpacu menandakan tekad untuk terus melangkah.
Tujuan masih belum nampak di pelupuk. Meski keyakinan akan sampai di puncak terus memudar. Sang pendaki tak akan menyerah. Karena menyerah berarti kalah.
Detik demi detik terus berjalan. Batu demi batu telah dilalui. Puncak gunung telah terlihat oleh mata. Tanpa sadar. Jantung berpacu lebih cepat. Langkah pun semakin cepat, lupa akan lelahnya perjalanan.
Semua kelelahan benar-benar terbayarkan. Pemandangan begitu mengagumkan. Angin yang berhembus seolah-olah akan menerbangkan diri. Lelah setelah menempuh perjalanan panjang telah terbang bersama angin. Yang tinggal hanya rasa takjub yang luar biasa. Rasa syukur yang begitu membuncah di dada.
Mata enggan berkedip memandang ciptaan Sang Kuasa. Hidung terus menghirup udara yang menenangkan, seolah-olah berebut dengan dedaunan. Mulut terus berucap syukur akan anugrah Tuhan. Tangan-tangan kecil terus meraih-raih angin seolah ingin menangkapnya dan membawanya pulang. Kaki yang tadinya paling santer mengelu-elukan keluhan kini ikut tertunduk pada lukisan tuhan.
Dari sini langit terlihat lebih luas. Dari sini birunya langit seolah bisa kau gapai. Dari sini awan-awan itu benar-benar seperti kapas. Tanah ini terlihat begitu panjang , luas dan dalam.
Bukankah seperti itu pula orang yang telah mencapai tujuan hidupnya. Meski kerikil kecil bahkan batu besar sekalipun menghalangi langkahnya. Tekadnya terlalu kuat untuk diruntuhkan. Kebaikanlah yang ia dapat jika terus menjaga bekalnya berupa kejujuran sampai akhir. Tapi jika bekalnya dibuang. Maka dia tak akan bisa melanjutkan perjalanan.


At Gunung Api Purba Nglanggeran , Gunung Kidul...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar